Thursday, 21 February 2013

Mempersiapkan Keluarga Sakinah Mawaddah Warahmah

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-NYa ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri (suami-suami) dari jenismu sendiri,supaya kamu mendapatkan kehidupan yang tentram (sakinah),dan dijadikan-Nya diantara kamu rasa kasih saying. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar Rum : 30)

Dalam ayat diatas Allah SWT menjelaskan bahwa yang berperan membuat keluarga menjadi sakinah ada dua faktor, yaitu mawaddah dan rahman. Dalam bahasa Indonesia padanan kedua kata itu adalah kasih saying. Mawaddah lahir dari sesuatu yang bersifat jasmani ( kecantikan,kegagahan) sedangkan rahmah lahir dari sesuatu yang bersifat rohani (hubungan batin). Dalam pergaulan suami istri,kedua faktor itulah yang berperan.
Pada pasangan muda dimana yang laki-laki masih gagah dan wanita masih cantik,faktor mawaddahlah yang dominan. Sedangkan pada pasangan tua tatkala laki-laki tidak gagah lagi dan wanita tidak cantik lagi, yang lebih dominan adalah faktor rahmah. Kita tidak boleh mengabaikan salah satu dari dua faktor tersebut. Yang ideal adalah,kalau kedua faktor tersebut berjalan bersama-sama.
Karena membina keluarga sakinah tidaklah hanya cukup dengan modal cinta dalam pengertian mawaddah (keterikatan karena fisik) semata, maka ikutilah bimbingan yang diberikan Rasulullah SAW tentang kriteria yang dipakai laki-laki dalam menentukan calon istri, atau sebaliknya bagi calon wanita untuk menerima atau menolak khitbah seorang pria.
Islam sebagai dienul fitrah telah mensyari’atkan pernikahan agar manusia dalam hidup ini terjaga keselamatan akhlak dan terpenuhi panggilan fitrah serta naluri mereka.
Karena Islam telah mensyari’atkan pernikahan,maka tidak boleh tidak,bahkan haram bagi seorang muslim menghindari pernikahan,sekalipun dengan niat untuk beribadah dan taqarrub kepada Allah SWT,terutama jika dia telah memiliki syarat-syarat pernikahan.

“Ketika Rasulullah SAW mengetahui Ukkaf bin Wada’ah Al Hilaly tidak mau kawin, beliau bertanya ,“ Apakah engkau mempunyai istri wahai Ukkaf?” Ukkaf menjawab, “Tidak.” Beliau bertanya lagi, “Tidak pula budak perempuan?” Ukkaf menjawab “Tidak”. “Padahal kamu orang yang sehat dan kaya,” tanya Rasulullah SAW. Ukkaf menjawab : “Benar dan Alhamdulillah.” Beliau bersabda :”Berarti kamu termasuk teman-teman syaitan. Kamu memilih mengikuti pendeta Nashara sehingga masuk golongan mereka ataukan kamu menjadi golongan kami..”

Islam menolak sistem kependetaan,karena hal itu tidak cocok dengan fitrah manusia sebagai makhluk biologis,disamping bertentangan dengan sunnatullah yang berlaku atas makhluk-Nya.
Islam memandang hidup membujang menandakan lemah iman,karena kehidupan semacam itu lebih sukar untuk bisa stabil. Ia belum melengkapi separuh dari agamanya,sebagaimana sabda Rasulullah SAW berikut ini :

“Barang siapa yang diberi rizki seorang wanita shalihah oleh Allah SWT,maka ia telah menolong atas separuh agamanya,maka hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam separuh yang lain.” (Hadist Syarif)

Meskipun orang yang hidup membujang itu mampu istiqomah,aktif melakukan shalat dan puasa,namum sebagai manusia ia tetep mengalami gejolak kejiwaan yang akan sering menggelitik kebersihan hati kala beribadah kepada Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda : “Dua rekaat irabg yang sudah nikah lebih baik daripada shalat tujuh puluh rekaat orang yang tidak/belum menikah.” (Hadist syarif)

Persiapan Menyongsong Pernikahan

Beberapa faktor yang perlu dipersiapkan oleh seorang muslim dan muslimah dalam menyongsong pernikahan, diantaranya :

1.    Persiapan Ruhiyyah (Keimanan)
Persiapan ini bersifat pribadi,menyangkut penggemblengan aqidah. Pernikahan ibarat sebuah sampan yang dipakai mengarungi samudera kehidupan yang luas dan penuh tantangan. Tegar tidaknya sepasang suami istri dalam menghadapi cobaan rumah tangganya,sangat tergantung dari kwalitas keimanan keduanya.
Salah satu faktor penting dalam hal ini adalah aspek keikhlasan menjalani hidup berkeluarga. Ikhlas adalah kunci utama ibadah. Karena pernikahan dalam kehidupan seorang muslim dan muslimah adalah termasuk ibadah,maka ia pun menuntut penyertaan niat ikhlas tersebut. Pernikahan yang dilandasi keikhlasan akan mampu melahirkan generasi shalih dan shalihah,disamping akan berfungsi sebagai al Manar (menara/mercusuar) bagi penyebaran nilai-nilai Islam di masyarakat.

2.    Persiapan  Fikriyyah (Pemikiran)
Seorang muslim sebelum melangkah ke jenjang pernikahan harus menguasai konsep dan hukum-hukum serta tata cara pernikahan Islami,sesuai dengan kapasitasya. Disamping itu penguasaan terhadap hak dan kewajiban suami isteri mutlak diperlukan. Bahkan sebagian ulama berpendapat,makruh, orang yang yang menikah sementara ia belum menguasai fiqh manakahat (seluk beluk pernikahan).

3.    Persiapan Maaliyah (Harta)
Harta khususnya dalam kehidupan rumah tangga memegang porsi penting dalam rangka mencapai kebahagiaan,meskipun ia bukan satu-satunya penyebab kebahagiaan. Islam mensyaratkan agar seorang muslim berpenghasilan untuk mencukupi kebutuhannya. Maka seorang calon suami khususnya, wajib menyiapkan hal ini. Karena tanggung jawab nafkah,ada dipundaknya.
Akan tetapi, jangan sampai karena alas an belum adanya harta yang banyak menyebabkan seseorang menunda-nunda pernikahannya,yang justru akan merugikan kehidupannya sendiri. Yakinlah selama kita berusaha yang benar dan bertakwa kepada Allah, rizki akan diberikan kepada kita.
“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, akan diberi jalan keluar (dari permasalahannya) dan diberi rizki dari arah yang tidak di duga-duga.” (QS. At Thalaq : 2-3)

4.    Persiapan Jasadiyyah (Fisik)
Aspek fisik punya andil besar dalam pencapaian kebahagiaan keluarga. Suami,isteri dan anak-anak yang sehat sangat dihargai dalam Islam. Persoalan yang harus dihadapi dalam rumah tangga kadangkala banyak menyita energy. Akibatnya,seorang yang terbiasa santai dan selalu dilayani semasa bujangnya,sering kurang siap menghadapi kesibukan-kesibukan setelah berumah tangga. Hal ini,disadari atau tidak akan menjadi virus yang akan membahayakan keharmonisan kehidupan rumah tangga. Untuk itu selain menjaga kesehatan,penguasaaan ketrampilan yang bersifat jasmani perlu dikuasai oleh calon suami isteri.

Semoga artikel ini mampu mengubah para bujang untuk segera menuju gerbang pernikahan,sehingga segera mempercepat terbentuknya rumah tangga Islam guna menyiapkan generasi shalih dan shalihah.

Wednesday, 20 February 2013

Meraih Sehat Secara Islami

Sehat tidak selalu identik dengan gemuk dan tidak memiliki penyakit. Bahkan kelebihan berat badan jutru menjadi penyebab munculnya penyakit, mulai dari diabetes hingga penyakit jantung dan stroke.
Penelitian yang dilakukan oleh para ahli kedokteran menyimpulan bahwa ada empat faktor yang menentukan kesehatan seseorang. Ke empat faktor tersebut adalah :
  1. Gaya hidup dan perilaku kesehatan
  2. Keturunan
  3. Kondisi lingkungan
  4. Mutu pelayanan yang tersedia
Islam sebagai agama yang paling komplit dan sempurna jika dibanding agama-agama lain, sangat besar perhatiannya terhadap kesehatan.  Kesehatan adalah rahmat Allah swt yang sangat besar nilainya dan karenanya menjadi kewajiban setiap muslim untuk menjaganya. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan agar kita memiliki kesehatan prima.

Berperilaku Hidup Bersih
Kebersihan merupakan tanda dari keimanan seseorang dan Allah swt sangat mencintai orang-orang yang menjaga kebersihan.
"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang mensucikan diri." (QS. Al Baqarah : 222)
"Kebersihan itu sebagian dari iman" (HR. Muslim)
"Islam itu bersih, maka berperilakulah bersih, sesungguhnya orang tidak akan masuk syurga kecuali dalam keadaan bersih." (HR. Ad Dailami)

Makan dan Minum Yang Halal dan Baik
Ajaran islam mengharuskan mengkonsumsi makanan dan minuman yang jelas kehalalannya dan terhindar dari keragu-raguan tentang hukumnya. "Tinggalkanlah apa-apa yang meragukan kalian kepada apa-apa yang tidak meragukan kalian." demikian sabda Nabi saw.
"Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik bagimu dari apa yang ada dibumi..." (QS. Al Baqarah : 168)
"Makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan sesungguhnya Allah tidak suka dengan orang yang berlebih-lebihan." (QS. Al A'raf : 31)

Istirahat Secukupnya
Salah satu istirahat yang baik adalah tidur, sebagaimana firman Allah swt : 
"Dan Kami telah menjadikan tidur kamu untuk istirahat." (QS. An Naba' : 9)
"Dan Dia-lah yang telah menjadikan untukmu malam sebagai pakaian dan tidur sebagai istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk mencari nafkah." (QS. Al Furqan : 47)

Bekerja Sebatas Kemampuan
Islam melarang kita memaksakan diri mengerjakan sesuatu diluar kesanggupan kita. "Allah tidak akan membebankan seseorang melainkan sebatas kemampuannya." (QS. Al Baqarah : 286)

Menjaga Jarak  Dengan Penderita Penyakti Menular
"Orang yang sakit menular jangan dibawa mendekata orang sehat." (HR. Bukhari & Muslim)  

Segera Berobat Ketika Sakit
Semua penyakit pasti ada obatnya kecuali tua/pikun. Dalam suatu hadist disebutkan bahwa Nabi saw bersabda : "Berobatlah kamu sekalian (bila Sakit), karena sesungguhnya Allah swt tidak mendatangkan suatu penyakit kecuali mendatangkan pula obatnya, kecuali satu penyakit yaitu pikun." (HR. At Turmudzi)

Meningkatkan Stamina Tubuh
Hal ini dilakukan dengan meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat bagi tubuh kita. Sabda Nabi saw : "Sebagian dari tanda sempurnanya islam seseorang adalah meniggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat baginya." 

Membiasakan Puasa 
Manfaat puasa dari segi kesehatan, antara lain ; 
  • memperbaiki sel-sel alat penceraan 
  • akan mengurangi lemak sehingga terhindar dari penyakit darah tinggi dan stroke
  • dengan berpuasa tenaga yang dipakai akan efektif dan efisien
"Dan berpuasa itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui." (QS. Al Baqarah : 184)

Berolah Raga Secara Rutin
Rasulullah telah menganjurkan semua muslim berolah raga secara rutin, sebagai upaya untuk menjaga kesehatan. "Ajari anakmu (dengan olah raga) berenang, naik kuda dan memanah." (HR. Ad Dailami)

Sikap hidup yang Ikhlas, Qona'ah dan Sabar
Inilah kunci kesehatan yanb berasal dari dalam jiwa kita. Firman Allah dalam QS. Ar Ra'du ayat 28 : "Yaitu orang-orang yang beriman dan hati meraka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya mengingat Allah hati menjadi tenang."

Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang dikarunia kesehatan lahir dan betin. 
Ammin ya rabbal alamin


Prinsip Beramal Shaleh

Orang yang mengaku beriman, wajib untuk membuktikan keimanan itu dalam bentuk beramal shaleh. Karena banyak ayat dalam Al Quran yang merangkai kata-kata iman dan amal shaleh.
"Sesungguhnya Kami telah meciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. kemudian Kami kembalikan dia ketempat serendah-rendahnya (neraka) kecuali yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya." (QS. At Tin : 4-6)

Agar tidak sia-sia  amal yang kita kerjakan, maka setiap muslim perlu memahami prinsip-prinsip dalam beramal shaleh, yaitu :

Ikhlas Karena Allah
Dengan keikhlasan, amaliah yang sebenarnya berat akan terasa ringan dalam melaksanakannya dan sebaliknya bila tidak ikhlas, amaliah yang sebenarnya ringan justru akan terasa berat.
"Padahal meraka tidak disuruh kecuali menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus." (QS. Al Bayyinah : 5)

Benar Cara Melaksanakannya
Disamping harus ikhlas karena Allah, perbuatan seseorang bisa bernilai amal shaleh jika pelaksanaannya dengan cara yang benar. Misalkan shalat, harus sesuai dengan yang telah dicontohkan Rasulullah saw. begitu juga dengan amaliah yang lain seperti zakat, haji dan sebagainya.
Serta tidak dibenarkan adanya syirik dan bid'ah dalam melaksanakannya. Bila bercampur syirik dan bid'ah maka amal itu tidak dinilai sebagi ibadah.

Tujuannya Ridha Allah 
Apa yag dilakukan manusia mestinya bermaksud untuk mendapatkan ridha Allah swt, bukan maksud-maksud lain, seperti pujian manusia, harta, dan tahta dan sebagainya. Firman Allah swt :
"Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang riya dan enggan (menolong dengan) barang berguna." (QS. Al Maa'uun : 4- 7)
Bila seseorang telah melakukan sesuatu dengan penuh keridhaan, maka pahala yang akan diberikan Allah amat besar.
"Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka kecuali bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat kebaikan atau mengadakan perdamaian diantara manusia. Dan barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami  memberi kepadanya pahala yang besar." (QS. An Nisa' : 114)

Tidak Merasa Telah Banyak Beramal Shaleh
Yang akan dibawa manusia untuk menghadap Allah hanyalah pahala atas amal yang telah dia lakukan. Semakin banyak amal yang dilakukan semakin banyak pahala yang akan dicapainya. Dengan pahala yang banyak manusia akan semakin mulia disisi Allah. Karena amal yang banyak menunjukkan bahwa seseorang semakin bertaqwa kepada Allah.
"Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa diantara kamu." (QS. Al Hujurat : 13)

Bersegera Melaksanakannya
Muslim yang baik adalah muslim yang sesegera mungkin dalam melaksanakan amal shaleh, karena dia tidak tahu apakah umurnya akan panjang atau tidak. Seorang sahabat pada waktu pagi pernah di tanya Rasulullah saw tentang bagaimana  keadaannya. Lalu sahabat itu menjawab bahwa pagi ini dia merasa betul-betul menjadi orang yang beriman. Rasul agak terkejut mendengar jawaban itu karena sahabatnya itu sudah cukup lama menjadi mukmin tapi mengapa baru sekarang dia mengatakan demikian. Sahabat itu kemudian menjawab :
"Pagi ini saya betul-betul merasa menjadi orang yang beriman karena saya tidak yakin apakah nanti sore saya masih hidup atau tidak, dan nanti sorepun saya tidak yakin apakah saya besuk pagi masih hidup atau tidak, bahkan langkah saya yang pertama tidak saya yakini bisa dilanjutkan ke langkah yang kedua."
Dalam kaitan ini Rasulullah saw bersabda :
"Segeralah melakukan amal shaleh, sebab akan terjadi fitnah besar bagaikan gelap malam yang gulita. Ketika itu seorang pada pagi mukmin, tiba-tiba pada sore hari berbalik kafir, sore mukmin, pagi kafir. Mereka menukar agama dengan sedikit keuntungan dunia yang sederhana." (HR. Muslim)

Wa Allahu A'lam bish Shawwab


Menghalau Kecemasan Menggapai Ketentraman

"Ingatlah bahwa para kekasih Allah itu tidak akan merasa takut dan tidak akan bersedih. Mereka orang-orang yang beriman dan keadaan mereka bertaqwa. Bagi mereka berita gembira (dalam kehidupan akherat)..." (QS. Yunus : 62-64)

Kecemasan seseorang tidak hanya disebabkan tidak punya harta. Tapi gaya hidup seseorang juga menyebabkan orang lain merasa cemas. Masyarakt dewasa ini telah cenderung bergaya individualis. Hal ini menyebabkan adanya beberapa golongan masyarakat yang merasa dirinya tersisih.
Orang yang tersisih cenderung cepat frustasi saat dihadapkan dengan masalah-masalah dalam kehidupan. Sehingga kelompok ini akan mudah tersulut kemarahannya, sehingga mudah sekali melakukan kejahatan. Bahkan bagi mereka yang tidak sanggup membawa beban hidupnya, mereka akan bunuh diri. Na'udzubillah.

Setiap manusia memiliki peluang untuk merasakan kecemasan. tetapi sebagai seorang muslim yang menjadikan Al Quran sebagi pedoman, kita telah mendapatkan petunjuk., bahwa kecemasan ataupun kenyamanan hidup seseorang ditentukan oleh "jarak" kita dengan Allah swt. Apabila kita dekat dengan Allah, maka peluang untuk merasa cemas akan sangat kecil. Namun ketika jarak kita dengan Allah jauh, maka kita mungkin merasa dalam hidup ini tiada detik yang berlalu tanpa kecemasan.

Perlu diketahui bahwa yang mendekatkan kita kepada Allah hanyalah keimanan, sebagimana firman-Nya :
"Orang-orang yang beriman yang tidak mencampur adukkan keimanan mereka dengan kedzaliman (syirik) mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. Al An'am : 82)
Keimanan yang mampu menghilangkan cemas bukan sembarang keimanan. Hanya iman yang hidup dan mempunyai kekuatan lah yang mampu menghilangkan kecemasan. Hidupnya iman dapat diwujudkan dengan amal yang nyata serta pengorbanan yang iklhas. Iman yang hidup akan senantiasa menuntun pemiliknya melakukan upaya mencari jalan agar lebih dekat dengan Allah swt. Sedang kekuatan iman dibuktikan dengan senantiasa dzikrullah sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah saw dan amal shaleh.
"Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram." (QS. Ar Ra'd : 28)
Kekuatan iman seseorang ditentukan oleh bagaimana seseorang memandang kehidupan ini. Oleh karena itu, paling tidak ada tiga hal yang perlu diketahui oleh seorang mukmin, agar muncuk kekuatan iman dalam dirinya. Hal tersebut adalah :

Ma'rifatu Ghaayatil Hayaah (Memahami Tujuan Hidup)
Tujuan hidup seorang mukmin sangat jelas, yaitu hanya beribadah kepada Allah swt. Sebagaimana firman-Nya :
"Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaKu.' (QS. Adz Dzaariyat : 56)
Ibadah bagaimana yang dimaksud oleh Allah? yaitu ibadah yang semata-mata karena Allah dan yang seperti dituntunkan Rasulullah saw. Ibadah bukanlah hanya yang berbentuk ritual saja namun apa saja yang kita lakukan akan dihitung sebagai amal bila kita niatkan untuk mencari ridha Allah swt dan sesuai ajaran Rasulullah saw.

Ma'rifatu Haqiiqati Dunyaa wal Aakhirah (Memahami Hakikat Dunia dan Akhirat)
Hidup di dunia sama sekali tidak berarti bila dibandingkan dengan kehidupan akhirat. Dunia ini tidak kekal (fana') sedang akhirat kekal (baqa'). Firman Allah swt :
"Apakah kamu puas dengan kehidupan dunia sebagai ganti dari kehidupan akhirat padahal kenikmatan kehidupan di dunia ini (dibanding dengan kehidupan) diakhirat hanyalah sedikit." (QS. At Taubah : 38)

Ma'rifatu Haqiqatil Maut (Memahami Hakikat Kematian)
Segala sesuatu yang ada di dunia ini pasti akan rusak dan berakhir. Firman-Nya :
"Semua yang ada di bumi ini akan binasa." (QS. Ar Rahman : 26)

Selain tiga konsep di atas yang perlu kita catat adalah bahwa kecemaan merupakan masalah jiwa. Maka penyelesaiannya haruslah dengan obat dari sang pemilik jiwa yaitu Allah swt. Obat yang insya Allah mampu menetralisir kecemasan, kegelisahan ataupun kekikiran antara lain :
- Melaksanakan shalat secara kontinue dan terjaga kualitasnya
- Menyisihkan sebagian hartanya untuk fakir miskin
- Meyakini akan hari pembalasan dan bersiap-siap menghadapinya dengan banyak beramal shaleh
- Merasa takut akan siksa Allah swt
- Memelihara kesucian kemaluannya dengan tidak mengumbar nafsu selain kepada jalan yang dibenarkan oleh Allah swt
- Menjaga amanat yang di percayakan kepadanya dan menunaikan janji yang dibuatnya

Dengan menunaikan hal tersebut diatas insya Allah kecemasa hidup tak lagi ada dalam jiwa kita dan hidup akan tentram dan bahagia.

Bagaimana Membelanjakan Harta?

Salah satu prinsip aqidah islam adalah Laa Maalika Illa Allah (tidak ada yang Maha Memiliki selain dari Allah). Allahlah pemilik hakiki seluruh jagat raya beserta isinya. Tumbuh-tumbuhan hewan dan seluruh makhluk adalah milik-Nya. Termasuk harta di dalam islam hakikatnya adalah milik Allah, manusia hanya dititipi untuk waktu yang sementara.

"Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada dilangit dan dibumi." (QS. Al Baqarah : 284)

Fungsi harta tersebut menurut ajaran islam haruslah memiliki fungsi sosial. Artinya islam tidak membenarkan adanya kesenjangan sosial yang diakibatkan oleh tertumpuknya harta pada kelompok kecil elit lapisan masyarakat yang pada gilirannya akan menimbulkan kecemburuan sosial.

Oleh karena itu islam dengan tegas telah mengatur bagaimana seharusnya seorang muslim mendistribusikan harta yang dimilikinya. Diantara aturan islam yang berkaitan dengan dengan pembelanjaan harta yang kita miliki, antara lain :

Membelanjakan Harta Harus Dengan Tujuan Mencari Keridhaan Allah Semata
"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (hati orang yang menerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya'(pamer) kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka  Perumpamaan orang seperti itu seperti batu licin yang diatasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat. Lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir." (QS. Al Baqarah : 264)

Pemberian Haruslah Dipilihkan Yang Baik-baik
"Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (dijalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha  kaya lagi Terpuji." (QS. Al Baqarah : 267)

Bila Memberi Hendaklah Serahasia Mungkin
"Jika kamu menampakkan sedekahmu (dengan tujuan supaya dicontoh orang lain) maka itu adalah baik. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al Baqarah : 271)

Orang-orang Yang Belum Berakal Tidak Boleh Diberi Melebihi Kebutuhannya
"Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasi harta itu) dan ucapkan kepada mereka kata-kata yang baik." (QS. An Nisa' : 5)

Peminjam Yang Mengalami Kesulitan Tidak Boleh Didesak
"Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua piutang) itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (QS. Al Baqarah : 280)

Demikian beberapa panduan dalam membelanjakan harta dalam Islam. Semoga harta-harta kita diberkahi Allah swt sehingga menjadi salah satu modal mendapatkan surga-Nya. Amin

Berpakaian Dalam Islam

Allah SWT berfirman dalam Al Qur’an :
“Hai anak Adam, Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan.” (QS AL A’Raf : 26)
Islam dengan prinsip-prinsipnya yang sempurna membolehkan pemeluknya untuk tampil dengan pakaian dan perhiasan yang layak dan terhormat dihadapan masyarakat. Dengan syarat, sesuai dengan adab berpakaian dalam islam.
“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta) mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) ditengah-tengah antara yang demikian.” (QS Al Furqan : 67)
Islam menganjurkan pemeluknya untuk menjaga kebersihan dan berhias di tempat-tempat pertemuan,di hari Jum’at dan dua hari raya. Dalam melaksanakan ajaran agama islam tersebut harus diperhatikan rambu-rambunya,agar tidak terjebak kepada hal-hal yang dilarang Allah SWT dan Rasul-Nya.
Berikut ini beberapa perhiasan dan penampilan yang dilarang dalam agama Islam ;
1.    Emas dan Sutera
Kedua benda ini diharamkan bagi laki-laki, adapun kaum wanita boleh memakainya (halal).  Ahmad, AbuDawud,An Nasa’i dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Ali ra. “Rasulullah SAW mengambil sutera dan memegangnya dengan tangan kanannya dan mengambil emas,kemudian memegangnya dengan tangan kiri,lalu bersabda : “Dua macam benda ini diharamkan bagi umatku yang laki-laki.”
2.    Penampilan Yang Tidak Wajar
Yang dimaksud penampilan tidak wajar adalah, laki-laki berpenampilan dan berhias seperti wanita atau sebaliknya,wanita berdandan seperti laki-laki. Dari Ibnu Abbas ra, ia berkata : “Rasulullah SAW melaknat wanita yang menyerupai laki-laki dan laki-laki yang menyerupai wanita.”
3.    Baju Kemasyuran dan Kesombongan
Yang dimaksud dengan baju kemasyuran adalah baju megah dan mahal yang dipakai dengan tujuan meyombongkan diri kepada khalayak ramai.
Ahmad, AbuDawud,dan An Nasa’i meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa memakai baju (pakaian) untuk menyombongkan diri, niscaya pada hari kiamat Allah SWT akan memakaikan pakaian kehinaan padanya.”
4.    Merubah Ciptaan Allah SWT
Imam Muslim meriwayatkan : “Rasulullah SAW melaknat orang yang mentato dan yang ditato,yang memotong dan meruncingkan gigi dan yang dipotong dan diruncingkan giginya.”
Laknat Allah SWT juga dikenakan kepada orang-orang jaman sekarang yang melakukan operasi kecantikan,sebab dengan melakukan perbuatan itu ia telah merubah ciptaan Allah SWT. Al Qur’an menganggap bahwa pemikiran dan perbuatan seperti itu telah dipengaruhi oleh syaitan la’natullah.
“..Dan akan saya (syaitan) suruh mereka merubah ciptaan Allah,lalu benar-benar mereka merubahnya.” (QS An Nisa’ : 119)
5.    Bejana Emas dan Perak
Imam Muslim meriwayatkan dari Ummu Salamah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya orang yang makan atau minum dalam bejana emas dan perak, hakikatnya ia sedang memasukkan api neraka jahannan ke dalam perutnya.”
Beliau SAW juga bersabda : “Benda-benda tersebut (bejana emas dan perak) adalah kepunyaan orang-orang kafir di dunia dan kepunyaan kita di akhirat.”

Penampilan yang dilarang bagi wanita wanita muslim
Islam tidak melarang wanita wanita muslim berhias dan memakai perhiasan,bahkan malah  dianjurkan. Akan tetapi berhias dan memakai perhiasan tersebut perlu dibatasi dan diatur agar tidak mengundang bahaya. Dalam rangka menghindari bahaya dan menjaga ketentraman hidup dalam masyarakat,maka ada model dan cara tampil yang harus ditinggalkan oleh wanita wanita muslim,diantaranya :
1.    Menyerupai Pakaian Laki-laki
“Bukan dari golongan kita perempuan yang menyerupai lelaki. Dan bukan dari golongan kita lelaki yang menyerupai perempuan.” (HR Imam At Thabrany)
2.    Menyambung Rambut Kepala
Berkata Aisyah ra : “Ada seorang pemudi dari golongan Anshar telah kawin,lalu ia sakit. Maka rontoklah rambutnya,lantas keluarganya hendak menyambungnya, maka bertanyalah mereka pada Rasulullah SAW tentang hal itu, maka Beliau SAW bersabda : “Allah SWT telah melaknat perempuan yang menyambung rambut kepalanya (memakai cemara) dan yang meminta disambung rambut kepalanya.” (HR Imam Bukhari)
3.    Mencacah Kulit (bertatto)
Berkata Ibnu Umar ra. : “Bahwa Rasulullah SAW melaknat perempuan yang menyambung rambut kepala dan yang minta disambung rambut kepalanya,yang mencacah kulit dan minta dicacah kulitnya.” (HR Imam Bukhari,Muslim,Turmudzi dan An Nasa’i)
4.    Mencukur (Mencabut) Bulu Dahi (Alis)
Berkata Ibnu Mas’ud ra : “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW melarang perempuan mencabut (mencukur) bulu dahinya (alis),mengikir giginya,menyambung rambut kepalanya,dan mencacah kulitnya.” (HR Imam Ahmad)
5.    Memakai Parfum Bukan Ditempatnya
Rasulullah SAW bersabda : “Apabila seorang perempuan memakai bau-bauan (parfum) lalu keluar dari tempat kediamannya,lalu berjalan melewati banyak orang (yang bukan mahramnya) sehingga mereka mencium baunya,maka ia telah berzina dan tiap-tiap  mata yang memandang kepadanya,itupun (dianggap telah) berzina.” (HR Imam Ahmad,An Nasa’i dan Hakim)

Demikian adab berpakaian dalam Islam. Semoga kita mampu berhati-hati sehingga tidak tergelincir kepada hal-hal yang dilarang Allah SWT dan Rasul-Nya. Amin

Bacaan Dzikir Yang Ringan Dalam Ucapan Namun Berat Dalam Timbangan

Diantara ucapan-ucapan dzikir yang sangat besar artinya bila kita ucapkan adalah lima  kalimat yang dalam al quran dinamakan Baqiyyatush Shaalihaat, yaitu manfaatnya akan terus menerus tiada putus-putus selamanya. Didalam hadist, Rasulullah saw menamakan kalimat itu dengan “ringan dalam ucapan tetapi berat dalam timbangan. Kalimat-kalimat tersebut adalah :

1.    Alhamdulillah
Artinya segala puji bagi Allah. Kalimat ini dinamakan “Tahmid” (memuji). Bertahmid artinya memuji Allah dengan mengucapkan kalimat ini yaitu berterima kasih dan bersyukur kepada Allah. Dalam sebuah riwayat dikatakan, apabila seluruh harta kekayaan dipermukaan bumi ini diserahkan kepada seseorang lalu orang itu mengucapkan Alhamdulillah maka ucapan Alhamdulillah lebih besar manfaatnya bagi orang itu daripada harta kekayaannya.
“Sekiranya dunia dan seluruh harta kekayaan yang ada padanya diserahkan kepada seseorang dari umat-Ku ,lalu ia mengucapkan Alhamdulillah maka ucapan Alhamdulillah itu lebih baik dan lebih berharga baginya (daripada harta yang banyak itu).” (HR Ibu Sakir)

2.    Allahu Akbar
Artinya Allah Maha Besar. Kalimat ini disebut “Takbir”,maknanya mengagungkan Allah. Allah yang kita yakini maha besar dalam segala-galanya,baik zat-Nya,asma-asma-Nya,sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-Nya. Dia-lah yang senantiasa memberi pertolongan kepada kita yang lemah ini untuk mengatasi segala macam kesulitan dan kesusahan yang kita alami.

3.    Subhanallah
Artinya Maha Suci Allah. Kalimat ini dinamakan “Tasbih”. Yang artinya mensucikan Allah. Mensucikan Allah berarti menjauhkan dan membersihkan diri kita dari anggapan-anggapan yang tidak baik kepada Allah. Allah Maha Suci artinya Allah tidak lemah, maha suci dari sifat-sifat kekurangan dan cacat. Semua kejadian di alam ini sekalipun tampak jelek,tidak menyenangkan tapi pasti ada manfaatnya dibalik semua itu. Orang menderita sakit bukan semata-mata Allah menbencinya. Bahkan sebaliknya Allah menunjukkan kasih sayang-Nya kepada kita dengan menghapus dosa-dosa yang melekat dalam diri kita dengan sebab sakit itu. Mungkin Allah juga memberikan peringatan kepada kita agar tidak lupa kepada-Nya disaat sehat.

4.    Laa Ilaa ha illallah
Artinya : Tidak ada Ilah kecuali Allah. Kalimat ini disebut “Tahlil” atau kalimat Tauhid. Kalimat ini menegaskan bahwa yang disembah,dicintai, diikuti, ditakuti, tempat berharap, dimintai pertolongan, yang mutlak membuat peraturan, yang berkuasa hanya Allah. Pengingkaran dari sifat-sifat dan perbuatan Allah tersebut menjadikan manusia terjerembab kedalamn kesyirikan baik syirik Akbar (besar) maupun Syirik Ashgar (kecil).

5.    Laa haula walaa quwwata illaa billah
Artinya Tiada Daya dan Tiada Kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Kekuatan yang dimiliki manusia itu pada hakekatnya milik Allah. Sewaktu-waktu kekuatan itu akan berubah menjadi lemah. Dengan kalimat ini akan tertanan dalam diri kita rasa berserah diri kepada Allah.

Demikianlah lima kalimat yang ringan diucapkan namun berat timbangannya disisi Allah. Itulah indahnya dzkrullah, masih adakan diantara kita yang enggan melakukannya?

Ya Allah,jadikan kami orang yang senantiasa berdzikr kepada-Mu,baik dalam keadaan suka maupun duka. Amin Ya Robbal ‘Alamin.

Tugas Utama Wanita

"Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah”. Asma’ binti Abu Bakar ra. pernah datang   menghadap Ra...