Wednesday, 27 January 2016
HIkmah
Diriwayatkan juga oleh Ath-Thabrani dalam Kitab Al Kabair dan Al Hakim dalam Shahihnya, Dari Ibu Mas'ud ra, Nabi Saw bersabda :
"Barangsiapa membaca sepuluh ayat ; empat ayat di awal surat Al Baqarah, ayat kursi dan dua ayat sesudahnya, serta ayat-ayat terakhir dari Al Baqarah tersebut, maka rumahnya tidak akan dimasuki syaitan sampai pagi".
Dari Abu Umamah ra bahwa Rasulullah Saw bersabda :
" Barangsiapa membaca ayat-ayat terakhir surat Al Hasyir pada waktu malam atau siang maka Allah akan menjamin baginya syurga". (HR Al Baihaqi)
Saturday, 23 January 2016
Semua Balasan dan Pahala adalah dari Allah swt
Allah swt tidak akan menarik suatu kenikmatan melainkan Dia akan menggantikannya dengan yang lebih baik. Tentunya, hal ini kita dapat bersabar dan selalu mengharap balasan pahala dari Allah swt.
Rasulullah saw bersabda ;
"Barangsiapa Aku (Allah swt) cabut penglihatan kedua matanya, lalu dia bersabar, maka Aku akan menggantikannya dengan balasan syurga."
Barangsiapa kehilangan anaknya dan dia bersabar, maka Allah akan membina rumah yang dinamakan dengan rumah Al Hamd di dalam syurga. Janganlah pernah mengeluh terhadap satu musibah, sebab apabila satu musibah menimpa seseorang maka Allah akan memberikan pahala, pengganti dan ganjaran yang melimpah disisi Allah swt.
Allah swt berfirman ;
"(Sambil mengucapkan) Salamun 'alaikum bima shabartum. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu." (QS 13 : 24)
Maka berbahagialah kepada orang yang dilanda musibah dah tahniah kepada mereka yang di timpa bala bencana.
Usia dunia ini sangatlah pendek dan perbendaharaannya sedikit. Sementara akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. Siapa yang mengalami kesusahan di alam dunia, maka dia akan menjalani hidup tentram di alam akhirat.
Apasaja yang terdapat di sisi Allah swt adalah lebih baik, kekal, bahagia,mulia agung dan lebih terhormat.
Sumber :
khamsata wa 'isyruuna sababan lis-sa'adah -
Dr. 'Aidh bin Abdullah Al Qarny
Wednesday, 10 April 2013
Mencintai Rasulullah SAW
Tuesday, 26 March 2013
Jalan Kesesatan
Mereka dengan sombongnya mengatakan bahwa Allah telah mati,Allah itu tidak ada,alam semesta ini terjadi secara alamiah belaka dan sejuta kalimat kesombongan yang intinya mereka tidak mau mengakui eksisitensi Allah swt. Padahal kalau mereka ditanya, lidah yang digunakan untuk berkata demikian itu siapa yang menciptakan, mereka pasti tidak akan berani berkata “Akulah yang menciptkan”. Sebab pada dasarnya mengakui adanya Allah. Hanya karena kosombongan dan nafsulah yang menyebabkan mereka berbuat seperti itu.
Allah lah yang menciptakan alam ini,termasuk juga manusia. Dia pasti Maha Tahu samapai dimana kapasitas manusia,sebagaimana agar manusia itu baik dan segala hal yang menyangkut seluk beluk manusia. Tidak mungkin Dia membuat aturan yang akan merusak ciptaan-Nya. Maka kalau manusia ingin hidupnya menjadi baik dan selamat, jelas tiada jalan lain kecuali dia harus kembali kepada aturan yang benar, yaitu islam.
Tapi kenapa manusia masih ada yang ingkar terhadap kebenaran Islam. Padahal kebenarannya sudah begitu jelas?
Ulama besar Abul A’la Al Maududi memberikan gambaran tentang sebab-sebab kekufuran dan tidak biasnya manusia mendapat hidayah dari Allah swt. Sebab tersebut adalah :
1. Mengikuti Hawa Nafsu Sendiri
“Dan siapakan yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim.” (QS. Al Qashash : 50)
“Terangkanlah padaku tentang orang-orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak,bahkan lebih sesat jalanya(dari binatang ternak).” (QS. Al Furqon : 43-44)
2. Mengikuti Budaya Nenek Moyang Tanpa Sikap Selektif
“Dan apabila dikatakan kepada mereka : “ikutilah aoa yang telah diturunkan oelh Allah.” Mereka menjawab :”(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan ) nenek moyang kami.” (Apakah mereka akan mengikuti juga) walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui sesuatu apapun, dan tidak mendapatkan petunjuk?” (QS. Al Baqarah : 70)
3. Patuh Kepada Selain Allah swt.
Kepatuhan kepada selain Allah ini terjadi apabila manusia mengesampingkan perintah-perintah Allah lalu mentaati perintah-perintah dari manusia dengan berbagai alas an.
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini,niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al An’am : 116)
Tiga hal itulah berhala-berhala besar yang masih bercokol di dalam tubuh umat ini. Kalau umat ini mau bangkit, terlebih dahulu ia harus membumihanguskan ketiga berhala tersebut. Karena kita hanya mendapat petunjuk manakala kita menyerahkan loyalitas kepada Allah swt saja.
Wednesday, 13 February 2013
Valentine's Day Budaya Menyesatkan
Sejarah Valentine’s Day tidak dapat dipisahkan dari rangkaian peristiwa dan ritus agama Nasrani. Sejarah menceritakan, bahwa setiap tanggal 14 Februari,selalu diadakan peringatan untuk menghormati mendiang Santo Valentino yang dihukum mati tahun 270 M. Pada hari itu orang-orang Nasrani ”disunnahkan” mengungkapkan perasaan cintanya dengan saling mengirimkan pesan dan hadiah cinta.
Santo Valentino yang diperingati tersebut adalah nama pendeta Kristen yang dianggap pelindung orang-orang yang kasmaran serta penganjur kawin muda. Dia dihukum mati karena melanggar peraturan yang dibuat Emperior Claudius II Ghoticus yang melarang para pasangan muda untuk menikah. Claudius II menganggap bahwa tentara yang masih bujang lebih baik dan berprestasi daripada yang sudah beristri. Hal ini tidak disetujui oleh Santo Valentino. Maka tanpa sepengetahuan sang penguasa, ia menikahkan sepasang pemuda-pemudi. Lantaran perbuatannya itu sang pendeta dipenggal di Roma pada tahun 270 M, (sumber lain tahun 269 M) dan dikuburkan di tepi jalan Flaminia. Lucunya pihak gereja menobatkannya sebagai pehlawan yang melindungi orang bercinta.
Valentine’s Day juga berhubungan dengan upacara keagamaan Romawi yang menyembah dewa Lupercus (dewa kesuburan,padang rumput dan hewan ternak). Juga dihubungkan dengan penyembahan dewa Faunus sebagai dewa alam semesta dan pemberi wahyu yang diadakan di bukit Falatine.
Upacara dimulai dengan mengobarkan beberapa ekor kambing dan seekor anjing. Lalu dua orang pemuda dibawa ke sebuah altar. Sebuah pisau yang berlumuran darah disentuhkan ke kening mereka,dan mereka harus tertawa. Setelah itu, darah di kening dibersihkan dengan kain wool yang dicelupkan ke dalam susu. Kemudian mereka dibagi dua kelompok dan berlari kearah yang berlawanan mengelilingi bukit dan temobk kota Falatine. Mereka mencambuki wanita yang dijumpai guna mengembalikan kesuburannya. Namun ironisnya, para wanita itu justru dengan senang hati menerima cambukan tersebut.
Acara hari Valentine tersebut mulai berkembang sejak kaisar Constrantin (280-337 M),sejak kaesar pertama pemeluk agama Nasrani. Sejak itu,acara hari kasih sayang Valentine diwarnai nuansa kemesuman yang dimulai pesan-pesan cinta yang disampaikan para gadis yang sedang kasmaran dan diletakkan dalam sebuah jambangan kemudian diambil oleh para pemuda. Setelah itu mereka berpasangan dan berdansa yang diakhiri dengan tidur bersama lengkap dengan perzinahannya. Pada tahun 494 M, dewan Gereja yang dipimpin Paus Galasium I mengubah upacara tersebut dengan pofokasi (pembersihan dosa). Paus juga mengubah upacara Lupercalia itu dari tanggal 15 mnejadi 14 Februari yang pada tahun 496 M ditetapkan sebagai Valentine’s Day untuk menghormati Santo Valentino.
Singakatnya, Valentine’s Day adalah budaya yang berakar dari upacara keagamaan ritual Romawi kuno untuk menyembah dewa mereka yang dilakukan dengan penuh kemusyrikan. Upacara yang biasa dilakukan tanggal 14 Februari tersebut disebarluaskan gereja ke masyarakat dunia. Termasuk negeri yang mayoritas penduduknya muslim. Oleh karena itu, dapat kita katakan dengan tegas bahwa Valentine’s day hanyalah tradisi Nasrani yang berakar dari kebudayaan Romawi kuno.
Sungguh memprihatinkan,ternyata acara ini banyak diikuti kaum muda-mudi muslim yang tidak paham dengan akidah dan kurang penghayatan terhadap Islam. Seolah-olah Islam tidak mengenal doktrin cinta kasih yang suci yang tentunya bebas kemaksiatan. Padahal ajaran cinta kasih dalam Islam memiliki kedudukan tinggi sebagaimana yang tercantu dalam Al quran surat At Taubah : 24, Al Baqarah : 165, Al Fath : 29, Al Maidah : 54, dll.
Jelaslah,Valentine’s Day merupakan budaya asing yang tidak Islami. Dan mengikutinya berarti menghidupkan dan melestarikan tradisi jahiliyah. Dan itu nyata-nyata bertentangan dengan syariat Islam. Perayaan dan mengikuti tradisi Valentine’s Day dalam bentuk apapun merupakan perbuatan syirik (karena menyangkut keyakinan dan ritus bukan Islam),maksiat,mengumbar nafsu bahkan sering terjadi perzinahan. Dan merupakan tindakan bodoh yang masuk dalam perangkap penyelengan akidah dan penyesatan perilaku berupa suka ria,pesta pora,foya-foya,hura-hura dan kemubaziran. Dan itu semua merupakan budaya orang Yahudi dan Nasrani.
“Dan selamanya orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang dengan kalian (umat Islam) sebelum kalian mengikuti agama mereka...” (QS. Al Baqarah : 120)
Rasulullah Saw bersabda :
“Sungguh kalian akan mengikuti sunnah (acara-acara,tradisi,sikap,kebiasaan dan gaya hidup ) orang-orang sebelum kamu selangkah demi selangkah hingga kalau mereka masuk lubang biawak sekalipun kalian akan ikut memasukinya.” Para sahabat bertanya :”Maksudnya umat Yahudi dan Nasrani?” Beliau saw menjawab : “Lalu siapa lagi (kalau bukan mereka).” (HR. Bukhari –Muslim)
Bila kita mengikuti acara dan gaya hidup non muslim maka kita dikategorikan Nabi saw termasuk golongan mereka dan tidak diakui sebagai umatnya.
“Barang siapa menyerupai suatu kaum maka ia tergolong kaum itu.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Begitu pula halnya mengikuti tradisi tahun baru dalam bentuk apapun adalah haram hukumnya. Sebab semua itu bukan berasal dari ajaran Islam. Umat Islam seperti dipelopori Umar bin Khathab ra. telah memproklamirkan tahun sendiri berupa Tahun Hijriah yang terhitung dari hijrah Nabi dalam rangka menghijrahkan jalan hidup manusia yang jahiliah kepada Islam. Dan kita patut hanya berbangga dengan bulan-bulan Islam yang disitu Islam senantiasa mengaitkan syiar dan ibadah ritual. Serta menempatkan keutamaan bulan yang telah Allah janjikan termasuk bulan-bulan haram (suci).
Adapun mengenai hukum memanfaatkan momentum acara Valentine’s Day dan tahun baru untuk bisnis barang dan jasa yang khusus mendukung acara tersebut atau acara-acara ritual dan maksiat lainnya,menurut pandangan akidah dan syariah adalah tidak dibernarkan oleh Islam. Karena hal itu termasuk memberi andil pada acara-acara jahiliyah. Padahal Allah melarang kita untuk membantu hal-hal jahiliyah,maksiat dan dosa.
“Dan tolong menolonglah kamu dalam kebajikan dan taqwa dan jangan tolong menolong dala perbuatan keji dan dosa.” (QS Al Maidah : 2)
Hal tersebut juga berlaku pada larangan atau haramnya mengadakan acara khusus ibadah keagamaan sebagai pengganti acara malam tahun baru. Seperti, malam muhasabah (intropeksi diri) atau yang lainnya. Sebab acara khusu ibadah keagamaan dalam Islam bila dikaitkan dan dikhususkan dalam momnetum khusus serta tata cara khusus yang tidak dicontohkan Nabi dapat dikategorikan bid’ah (kesesatan) yang dilarang Nabi. Wallahu a’lam wabillahit Taufiq wal Hidayah
Sumber : Majalah Politik dan dakwah SAKSI
Thursday, 7 February 2013
Hukum Tahlilan
Telah banyak beredar pernyataan bahwa tradisi tahlilan sampai tujuh hari diadopsi dari ajaran agama Hindu. Benarkah anggapan dan asumsi mereka ini?
Berikut ini pendapat ulama salafus shaleh tentang hukum tahlilan :
Imam Ahmad bin Hanbal, seorang ahli hadits kenamaan mengatakan bahwa beliau mendapatkan riwayat dari Hasyim bin al-Qasim, yang mana beliau meriwayatkan dari Al-Asyja’i, yang beliau sendiri mendengar dari Sofyan, bahwa Imam Thawus bin Kaisan ra pernah berkata :
إن الموتى يفتنون في قبورهم سبعا، فكانوا يستحبون أن يطعم عنهم تلك الأيام
“Sesungguhnya orang mati difitnah (diuji dengan pertanyaan malaikat) didalam quburnya selama 7 hari, dan “mereka” menganjurkan (mensunnahkan) agar memberikan makan (pahalanya) untuk yang meninggal selama 7 hari tersebut”.
Riwayat ini sebutkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal didalam az-Zuhd [1]. Imam Abu Nu’aim al-Ashbahani (w. 430 H) juga menyebutkannya didalam Hilyatul Auliya’ wa Thabaqatul Ashfiyah.[2] Sedangkan Thawus bin Kaisan al-Haulani al-Yamani adalah seorang tabi’in (w. 106 H) ahli zuhud, salah satu Imam yang paling luas keilmuannya. [3] Ibnu Hajar al-Haitami (w. 974) dalam al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubraa dan Imam al-Hafidz as-Suyuthi (w. 911 H) dalam al-Hawil lil-Fatawi mengatakan bahwa dalam riwayat diatas mengandung pengertian bahwa kaum Muslimin telah melakukannya pada masa Rasulullah SAW, sedangkan Rasulullah SAW mengetahui dan taqrir terhadap perkara tersebut. Dikatakan (qil) juga bahwa para sahabat melakukannya namun tidak sampai kepada Rasulullah SAW. Atas hal ini kemudian dikatakan bahwa khabar ini berasal dari seluruh sahabat maka jadilah itu sebagai Ijma’, dikatakan (qil) hanya sebagian shahabat saja, dan masyhur dimasa mereka tanpa ada yang mengingkarinya. [4]
Ini merupakan anjuran (kesunnahan) untuk mengasihi (merahmati) mayyit yang baru meninggal selama dalam ujian didalam kuburnya dengan cara melakukan kenduri shadaqah makan selama 7 hari yang pahalanya untuk mayyit. Kegiatan ini telah dilakukan oleh para sahabat, difatwakan oleh mereka. Sedangkan ulama telah berijma’ bahwa pahala hal semacam itu sampai dan bermanfaat bagi mayyit.[5] Kegiatan semacam ini juga berlangsung pada masa berikutnya, sebagaimana yang dikatakan oleh al-Imam al-Hafidz as-Suyuthiy ;
“Sesungguhnya sunnah memberikan makan selama 7 hari, telah sampai kepadaku (al-Hafidz) bahwa sesungguhnya amalan ini berkelanjutan dilakukan sampai sekarang (masa al-Hafidz) di Makkah dan Madinah. Maka secara dhahir, amalan ini tidak pernah di tinggalkan sejak masa para shahabat Nabi hingga masa kini (masa al-Hafidz as-Suyuthi), dan sesungguhnya generasi yang datang kemudian telah mengambil amalan ini dari pada salafush shaleh hingga generasai awal Islam. Dan didalam kitab-kitab tarikh ketika menuturkan tentang para Imam, mereka mengatakan “manusia (umat Islam) menegakkan amalan diatas kuburnya selama 7 hari dengan membaca al-Qur’an’. [6]
Shadaqah seperti yang dilakukan diatas berlandaskan hadits Nabi yang banyak disebutkan dalam berbagai riwayat. [7] Lebih jauh lagi dalam hadits mauquf dari Sayyidina Umar bin Khaththab ra, disebutkan dalam al-Mathalib al-‘Aliyah (5/328) lil-Imam al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852) sebagai berikut :
قال أحمد بن منيع حدثنا يزيد بن هارون حدثنا حماد بن سلمة عن علي بن زيد عن الحسن عن الحنف بن قيس قال كنت أسمع عمر رَضِيَ الله عَنْه يقول لا يدخل أحد من قريش في باب إلا دخل معه ناس فلا أدري ما تأويل قوله حتى طعن عمر رَضِيَ الله عَنْه فأمر صهيبا رَضِيَ الله عَنْه أن يصلي بالناس ثلاثا وأمر أن يجعل للناس طعاماً فلما رجعوا من الجنازة جاؤوا وقد وضعت الموائد فأمسك الناس عنها للحزن الذي هم فيه فجاء العباس بن عبد المطلب رَضِيَ الله عَنْه فقال يا أيها الناس قد مات الحديث وسيأتي إن شاء الله تعالى بتمامه في مناقب عمر رَضِيَ الله عَنْه
“Ahmad bin Mani’ berkata, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun, menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari ‘Ali bin Zayd, dari al-Hasan, dari al-Ahnaf bin Qays, ia berkata : aku pernah mendengar ‘Umar ra mengatakan, seseorang dari Quraisy tidak akan masuk pada sebuah pintu kecuali seseorang masuk menyertainya, maka aku tidak mengerti apa yang maksud perkataannya sampai ‘Umar ra ditikam, maka beliau memerintahkan Shuhaib ra agar shalat bersama manusia selama tiga hari, dan juga memerintahkan agar membuatkan makanan untuk manusia. Setelah mereka kembali (pulang) dari mengantar jenazah, dan sungguh makanan telah dihidangkan, maka manusia tidak mau memakannya karena sedih mereka pada saat itu, maka sayyidina ‘Abbas bin Abdul Muththalib ra datang, kemudian berkata ; wahai.. manusia sungguh telah wafat .. (al-hadits), dan InsyaAllah selengkapnya dalam Manaqib ‘Umar ra”.
Hikmah dari hadits ini adalah bahwa adat-istiadat amalan seperti Tahlilan bukan murni dari bangsa Indonesia, melainkan sudah pernah dicontohkan sejak masa sahabat, serta para masa tabi’in dan seterusnya. Karena sudah pernah dicontohkan inilah maka kebiasaan tersebut masih ada hingga kini.
Riwayat diatas juga disebutkan dengan lengkap dalam beberapa kitab antara lain Ithaful Khiyarah (2/509) lil-Imam Syihabuddin Ahmad bin Abi Bakar al-Bushiriy al-Kinani (w. 840).
وعن الأحنف بن قيس قال: “كنت أسمع عمر بن الحنطاب- رضي الله عنه- يقول: لا يدخل رجل من قريش في باب إلا دخل معه ناس. فلا أدري ما تأويل قوله، حتى طعن عمر فأمر صهيبا أن يصلي بالناس ثلاثا، وأمر بأن يجعل للناس طعاما، فلما رجعوا من الجنازة جاءوا وقد وضعت الموائد فأمسك الناس عنها للحزن الذي هم فيه، فجاء العباس بن عبد المطلب قال: يا أيها الناس، قد مات رسول الله – صلى الله عليه وسلم – فأكلنا بعده وشربنا، ومات أبو بكر فأكلنا بعده وشربنا، أيها الناس كلوا من هذا الطعام. فمد يده ومد الناس أيديهم
فأكلوا، فعرفت تأويل قوله “.رواه أحمد بن منيع بسند فيه علي بن زيد بن جدعان
“Dan dari al-Ahnaf bin Qays, ia berkata : aku mendengar ‘Umar bin Khaththab ra mengatakan, seseorang dari Quraisy tidak akan masuk pada sebuah pintu kecuali manusia masuk bersamanya. Maka aku tidak maksud dari perkataannya, sampai ‘Umar di tikam kemudian memerintahkan kepada Shuhaib agar shalat bersama manusia dan membuatkan makanan hidangan makan untuk manusia selama tiga hari. Ketika mereka telah kembali dari mengantar jenazah, mereka datang dan sungguh makanan telah dihidangkan namun mereka tidak menyentuhnya karena kesedihan pada diri mereka. Maka datanglah sayyidina ‘Abbas bin Abdul Muththalib, seraya berkata : “wahai manusia, sungguh Rasulullah SAW telah wafat, dan kita semua makan dan minum setelahnya, Abu Bakar juga telah wafat dan kita makan serta minum setelahnya, wahai manusia.. makanlah oleh kalian dari makanan ini, maka sayyidina ‘Abbas mengulurkan tanggan (mengambil makanan), diikuti oleh yang lainnya kemudian mereka semua makan. Maka aku (al-Ahnaf) mengetahui maksud dari perkataannya. Ahmad bin Mani telah meriwayatkannya dengan sanad didalamnya yakni ‘Ali bin Zayd bin Jud’an”.
Disebutkan juga Majma’ az-Zawaid wa Manba’ul Fawaid (5/159) lil-Imam Nuruddin bin ‘Ali al-Haitsami (w. 807 H), dikatakan bahwa Imam ath-Thabrani telah meriwayatkannya, dan didalamnya ada ‘Ali bin Zayd, dan haditsnya hasan serta rijal-rijalnya shahih ; Kanzul ‘Ummal fiy Sunanil Aqwal wa al-Af’al lil-Imam ‘Alauddin ‘Ali al-Qadiriy asy-Syadili (w. 975 H) ; Thabaqat al-Kubra (4/21) lil-Imam Ibni Sa’ad (w. 230 H) ; Ma’rifatu wa at-Tarikh (1/110) lil-Imam Abu Yusuf al-Farisi al-Fasawi (w. 277 H) ; Tarikh Baghdad (14/320) lil-Imam Abu Bakar Ahmad al-Khathib al-Baghdadi (w. 463 H).
Imam Suyuthi Rahimahullah dalam kitab Al-Hawi li al-Fatawi-nya mengtakan :
قال طاووس : ان الموتى يفتنون في قبورهم سبعا فكانوا يستحبون ان يطعموا عنهم تلك الايام
“Thowus berkata: “Sungguh orang-orang yang telah meninggal dunia difitnah dalam kuburan mereka selama tujuh hari, maka mereka (sahabt Nabi) gemar (bersedekah) menghidangkan makanan sebagai ganti dari mereka yang telah meninggal dunia pada hari-hari tersebut “.
Sementara dalam riwayat lain :
عن عبيد بن عمير قال : يفتن رجلان مؤمن ومنافق, فاما المؤمن فيفتن سبعا واماالمنافق فيفتن اربعين صباحا
“Dari Ubaid bin Umair ia berkata: “Dua orang yakni seorang mukmin dan seorang munafiq memperoleh fitnah kubur. Adapun seorang mukmin maka ia difitnah selama tujuh hari, sedangkan seorang munafiq disiksa selama empat puluh hari “.
Dalam menjelaskan dua atsar tersebut imam Suyuthi menyatakan bahwa dari sisi riwayat, para perawi atsar Thowus termasuk kategori perawi hadits-hadits shohih.
Thowus yang wafat tahun 110 H sendiri dikenal sebagai salah seorang generasi pertama ulama negeri Yaman dan pemuka para tabi’in yang sempat menjumpai lima puluh orang sahabat Nabi Saw. Sedangkan Ubaid bin Umair yang wafat tahun 78 H yang dimaksud adalah al-Laitsi yaitu seorang ahli mauidhoh hasanah pertama di kota Makkah dalam masa pemerintahan Umar bin Khoththob ra.
Menurut imam Muslim beliau dilahirkan di zaman Nabi SAW bahkan menurut versi lain disebutkan bahwa beliau sempat melihat Nabi SAW. Maka berdasarkan pendapat ini beliau termasuk salah seorang sahabat Nabi SAW.
Sementara bila ditinjau dalam sisi diroyahnya, sebagaimana kaidah yang diakui ulama ushul dan ulama hadits bahwa: “Setiap riwayat seorang sahabat Nabi SAW yang ma ruwiya mimma la al-majalla ar-ra’yi fiih (yang tidak bisa diijtihadi), semisal alam barzakh dan akherat, maka itu hukumnya adalah Marfu’ (riwayat yang sampai pada Nabi SAW), bukan Mauquf (riwayat yang terhenti pada sahabat dan tidak sampai kepada Nabi SAW).
Menurut ulama ushul dan hadits, makna ucapan Thowus ;
ان الموتى يفتنون في قبورهم سبعا فكانوا يستحبون ان يطعموا عنهم تلك الايام
Berkata: “Sungguh orang-orang yang telah meninggal dunia difitnah dalam kuburan mereka selama tujuh hari, maka mereka (sahabt Nabi) gemar (bersedekah) menghidangkan makanan sebagai ganti dari mereka yang telah meninggal dunia pada hari-hari tersebut “, adalah para sahabat Nabi SAW telah melakukannya dan dilihat serta diakui keabsahannya oleh Nabi SAW sendiri.
(al-Hawi) li al-Fatawi, juz III hlm. 266-273, Imam As-Suyuthi).
Maka tradisi bersedekah selama mitung dino / tujuh hari atau empat puluh hari pasca kematian, merupakan warisan budaya dari para tabi’in dan sahabat Nabi SAW, bahkan telah dilihat dan diakui keabsahannya pula oleh beliau Nabi Muhammad SAW.
Wallahu A’lam.
Sumber Rujukan :
[1] Lihat : Syarah ash-Shudur bisyarhi Hal al-Mautaa wal Qubur ; Syarah a-Suyuthi ‘alaa Shahih Muslim, Hasyiyah as-Suyuthi ‘alaa Sunan an-Nasaa’i dan al-Hafi lil-Fatawi lil-Imam al-Hafidz Jalaluddin as-Suyuthi ; Lawami’ al-Anwar al-Bahiyyah (2/9) lil-Imam Syamsuddin Muhammad as-Safarainy al-Hanbali (w. 1188 H) ; Sairus Salafush Shalihin (1/827) lil-Imam Isma’il bin Muhammad al-Ashbahani (w. 535 H) ; Imam al-Hafidz Hajar al-Asqalani (w. 852 H) didalam al-Mathalibul ‘Aliyah (834).
[2] Lihat : Hilyatul Auliya’ wa Thabaqatul Ashfiyaa’ lil-Imam Abu Nu’aim al-Ashbahaniy : “menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Malik, menceritakan kepada kami Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, menceritakan kepada kami ayahku (Ahmad bin Hanbal), menceritakan kepada kami Hisyam bin al-Qasim, menceritakan kepada kami al-Asyja’iy, dari Sufyan, ia berkata : Thawus telah berkata : “sesungguhnya orang mati di fitnah (diuji oleh malaikat) didalam kuburnya selama 7 hari, maka ‘mereka’ menganjurkan untuk melakukan kenduri shadaqah makan yang pahalanya untuk mayyit selama 7 hari tersebut”.
[3] Lihat : al-Wafi bil Wafiyaat (16/236) lil-Imam ash-Shafadi (w. 764 H), disebutkan bahwa ‘Amru bin Dinar berkata : “aku tidak pernah melihat yang seperti Thawus”. Dalam at-Thabaqat al-Kubra li-Ibni Sa’ad (w. 230 H), Qays bin Sa’ad berkata ; “Thawus bagi kami seperti Ibnu Siirin (sahabat) bagi kalian”.
[4] Lihat ; al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra (2/30-31) lil-Imam Syihabuddin Syaikhul Islam Ibnu Hajar al-Haitami ; al-Hawi al-Fatawi (2/169) lil-Imam al-Hafidz Jalaluddin as-Suyuthiy.
[5] Lihat : Syarah Shahih Muslim (3/444) li-Syaikhil Islam Muhyiddin an-Nawawi asy-Syafi’i.
[6] Lihat : al-Hawi al-Fatawi (2/179) lil-Imam al-Hafidz Jalaluddin as-Suyuthi.
Tuesday, 29 January 2013
Strategi Kaum Kafir Menghancuran Islam
Dari waktu ke waktu,kian terbukti kebencian kaum kafir (Yahudi dan Nasrani) terhadap umat Islam. Hal ini karena umat Islam selalu berjuang menegakkan Al Haq (kebenaran) dan sebaliknya,mereka terus berjuang menegakkan Al Bathil (kesesatan). Inilah sebabnya,mengapa tak pernah bisa bertemu antara pihak yang haq dengan pihak yang bathil. Bahkan dari generasi ke generasi,pertarungan yang bersifat fisik maupun non fisik terjadi berkali-kali hingga hari ini. Karena mereka beranggapan bahwa Islam merupakan penghalang yang harus diberantas. Maka berbagai cara mereka tempuh untuk menghancurkan Islam dan umatnya.
Sebagai muslim,kita perlu tahu,apa saja strategi mereka dalam menghancurkan Islam dan umatnya. Bila kita sudah tahu, insya Allah kita tidak akan terjebak dalam program penghancuran yang mereka lakukan. Seluruh program mereka pada intinya bertujuan untuk memurtadkan umat Islam,karena itu seringkali di sebut dengan harokatul itidad (gerakan pemurtadan).
Berikut ini beberapa strategi mereka untuk menghancurkan Islam :
1. Perang Secara Fisik
Berkali-kali peperangan antara muslim dengan Yahudi dan Nasrani terjadi. Perang Arab-Israel masih berlangsung hingga kini. Perang Salib yang terkenal itu juga menjadi bukti untuk menghancurkan umat Islam. Namun peperangan secara fisik yang sudah berlangsung berkali-kali ini menyadarkan mereka bahwa tak mungkin umat Islam bisa ditaklukan dengan kekuatan senjata.
Kegagalan menghancurkan Islam dengan perang fisik disebabkan karena umat Islam memiliki semangat jihad dan kecemburuan terhadap agamanya.
2. Menghancurkan Sistem Khilafah
Setelah gagal menghancurkan Islam melalui perang fisik,cara lain yang mereka tempuh guna menghancurkan Islam dan umatnya adalah dengan menghancurkan system pemerintahan Islam yang bersifat khilafah (menginternasional). Mereka menghancurkan kekhalifahan Islam Utsmaniyah di Turki lalu mereka ganti dengan pemerintahan yang sekuler. Lalu berkembang pula paham nasionalisme sehingga negara-negara yang dahulu saling bahu-membahu, setelah itu lebih mementingkan kebangsaannya.
Namun hancurnya kekhalifahan Utsmaniyah bukan berarti akhir dari segalanya. Keinginan untuk mengembalikan pemerintahan yang Islami tidak begitu saja hilang meskipun kondisinya sangat sulit. Sekarang ini dimana-mana muncul kesadaran pentingnya pemerintahan yang Islami,sebab tanpa pemerintahan yang Islami,yang menderita bukan hanya kaum muslimin,tetapi juga orang-orang selain Islam.
3. Menjauhkan Umat Islam dari Al Quran
Orang-orang kafir sebenarnya menghendaki musnahnya AlQuran sebagai salah satu sumber kekuatan umat Islam. Gladstone,seorang oreintalis barat menyatakan “selama Al Quran ini ada,maka Eropa tidak akan sanggup menjajah timur,malahan Eropa sendiri yang tidak bisa aman.” Namun akhirnya mereka sadar sendiri bahwa Al Quran itu tidak mungkin bisa dimusnahkan,maka merekapun berusaha untuk menjauhkan umat Islam dari kitab sucinya,dan ini bisa mereka capai dengan baik sehingga kekuatan tak lagi dimiliki oleh umat Islam karena umat Islam jauh dari Al Quran.
4. Menhancurkan Akhlak
Didalam Islam,tinggi dan rendah,kuat dan lemahnya umat Islam sangat tergantung pada sejauh mana kemuliaan akhlak yang dimilikinya. Karena itu orang-orang kafir sangat berkepentingan menghancurkan akhlak kaum muslimin. Samuel Sweimer seorang pimpinan misionaris pernah bekata “Misi utama kita adalah mengeluarkan seorang muslim dari Islam supaya menjadi orang yang tidak ada hubungan apa-apa dengan Allah,sehingga tidak mempunyai akhlak sebagai pegangan hidup umat Islam. Tugas kalian adalah menyiapkan generasi baru Islam yang jauh dari ajaran Islam.”
Untuk mencapai tujuan tersebut, pihak barat kemudian mengekspor budaya mereka yang jelek melalui film,sandiwara,lagu dan music,serta moto-moto tertentu untuk membentuk opini bahwa hal itu merupakan suatu kemajuan, tanda masyarakat modern.
5. Memecah Belah Persatuan Umat Islam
Tindak lanjut dari hancurnya system khilafah adalah mereka berusahan mencerai beraikan persatuan umat Islam. Untuk itu setelah mereka menjajah berpuluh-puluh tahun bahkan ratusan tahun,mereka tinggalkan negeri jajahan yang mayoritas penduduknya muslim itu dengan perbatasan yang tak jelas sehingga hal ini sering menjadi konflik antara satu negara dengan negara tetangganya. Setelah itu mereka mewariskan nasionalisme atau fanatisme kebangsaan secara berlebihan sehingga suatu negara lebih mementingkan negerinya lalu tidak peduli dengan negara lain. Hingga kini,persatuan umat Islam masih merupakan persoalan yang sangat besar untuk diwujudkan,meskipun di dalam Al Quran dan Hadist amat ditekankan.
6. Menanamkan Keraguan Terhadap Islam
Salah satu kunci kekuatan umat Islam adalah terletak pada amal shalehnya. Untuk bisa beramal shaleh seorang muslim terlebih dahulu harus betul-betul yakin akan Islam sebagai satu-satunya agama yang benar. Bila keyakinan itu sudah tumbuh dengan baik di dalam jiwa kaum muslimin, maka kaum muslimin akan selalu memperjuangkan tegaknya nilai-nilai Islam dalam kehidupan dan siap menanggung segala resikonya.
Karena itu musuh-musuh Islam terus menanamkan keraguan umat Islam terhadap agamanya. Mereka selewengkan makna-makna Al Quran sehingga membuat umat jauh dari Al Quran. Mereka kotori sejarah islam hingga umat Islam tidak percaya dengan para pejuang islam,termasuk ragu akan kesucian sejarah Nabi Muhammad SAW,lalu mereka hambat umat Islam untuk melaksanakan Islam sehingga umat ini semakin jauh dari ajaran agamanya sendiri.
7. Merintangi Kemajuan Umat Islam
Dalam banyak hal umat Islam sebenarnya bisa mencapai kemajuan yang besar,termasuk dibidang sains dan teknologi. Bila kemajuan ini betul-betul terwujud,maka keberadaan negara-negara barat sebagai negara industry bisa tersaingi.
Karena itu kemajuan negeri-negeri muslim terutama di bidang sains dan teknologi mereka hambat sedemikian rupa. Para pemuda-pemuda Islam yang sudah berhasil menuntut ilmu di bidang sains dan teknologi mereka beri iming-iming dengan gaji yang besar dan gelar mulia agar mau mengabdikan ilmunya dinegeri barat itu saja,tidak usah pulang ke negara asal mereka. Inilah yang kemudian dikenal dengan istilah Brain drain (pelarian intelektual muslim ke negara-negara barat). Meski begitu barat tetap saja menyimpan ketakutan karena umat Islam sekarang ini memang tidak bisa menahan diri lagi untuk maju,karena kemajuan sains dan teknologi yang dicapai barat banyak sekali yang mengakibatkan timbulnya masalah-masalah baru yang tidak menyenangkan.
Wahai kaum muslimin,itulah beberapa strategi kaum kafir untuk menghancurkan Islam. Untuk itu WASPADALAH!
Wednesday, 16 January 2013
Makna Kalimat Syahadat
Setelah mengucapkan dua kalimat syahadat,sesungguhnya kita telah mengakui bahwa dunia ini tidak akan terwujud tanpa kuasa kreatif Allah SWT. Tak ada yang layak disembah,dipuja,ditakuti,ditaati aturannya dan sebagainya selain Allah SWT. Hanya Allah-lah Tuhan kita dan Tuhan jagad raya ini. Dia-lah yang menciptakan dan member rizki seluruh alam ini. Hidup dan mati ada pada perintah-Nya. Apapun yang diperoleh seorang hamba sebenarnya adalah anugerah-Nya. Dan apapun yang terlepas dari tangan seseorang, adalah sesungguhnya karena kehendak-Nya. Hanya Dia-lah yang harus ditakuti. Hanya Dia-lah yang berhak dipuja dan disembah.
Ibnu Qayyim mengatakan bahwa kata ilah (sesembahan) dalam kalimat syahadat bermakna; Zat yang harus dipertuhankan dengan sepenuh hati. Allah SWT adalah sumber kecintaan (mahabbah),keagungan (ijlal),ampunan (inabah),kemuliaan (ikram) dan kebesaran (‘azhim). Hal ini harus kita yakinkan dengan rasa kemuliaan rendah diri,kepasrahan,takut,harapan dan tawakal.
Ibnu Rajab juga mengatakan bahwa arti kata al-ilah (sesembahan) dalam kalimat syahadat adalah; sesuatu yang harus ditaati. Kita pantang bermaksiat kepada-Nya dan harus mengagungkan-Nya dengan penuh rasa cinta,takut dan tawakal. Hanya kepada Allah SWT lah kita patut bertawakal dan meminta segala apa yang kita inginkan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata bahwa arti kata al-ilah dalam kalimat syahadat adalah;Zat yang disembah dan ditaati (ma’budul mutho’). Ilah adalah sesuatu yang harus diibadahi dan dipertuhankan. Dan yang berhak diibadahi hanyalah Allah SWT yang merupakan pusat kerinduan (al-mahbud). Karena itu,kita haram mencari sesembahan lain selain Allah SWT,sebab menurut Zamakhsari, ilah adalah segala sesuatu termasuk jenis nama-nama yang terdapat pada sesembahan,baik yang hak maupun yang bathil.
Setelah memahami ini,kita pun menyadari bahwa masih banyak saudara kita sesama muslim yang belum mengerti makna dua kalimat syahadat. Sehinggan mereka bersedia menerima dan mengambil sesembahan selain Allah SWT. Mereka tidak merasa bahwa perbuatan mengeramatkan kuburan,keris,batu-batuan,jin bahkan menuhankan ideology atau manusia adalah perbuatan sesat yang mengarah pada kemusyrikan. Karena itu Imam Qurthubi mengatakan bahwa tidak cukup menjadi muslim hanya dengan mengucap dua kalimat syahadat. Ketauhidan seseoarang baru bisa dikatakan sah bila ia mengucapkan dua kalimat syahadat disertai dengan keyakinan hati,pemahaman,keikhlasan,kejujuran dan rasa tanggung jawab. Tanpa adanya itu,syahadat seseorang tidak berarti apa-apa.
Monday, 7 January 2013
Misi Suci Para Nabi
Didalam Al Qur'an banyak sekali ayat yang menyebutkan tentang Rasul dengan berbagai aspeknya. Salah satu aspek yang disebutkan adalah misi yang diemban oleh para Rasul. Pemahaman tentang misi ini menjadi sesuatu yang penting agar kita menyadari bahwa diutusnya Rasul Saw ke muka bumi ini memang menjadi kebutuhan manusia. Tugas manusia di muka bumi ini pada hakikatnya hanya beribadah kepada Allah dalam berbagai aspek kehidupan. Untuk bisa melaksanakan tugas ini, diperlukan adanya penggunaan peraturan dari Allah. Karena itu tentu saja diperlukan seorang Rasul yang menyampaikan ajaran dari Allah itu.
Misi Suci Para Nabi
Paling tidak ada enam misi yang diemban oleh Rasul Saw yang disebutkan didalam Al Qur'an. Bila kita pahami keenam misi itu, jelas bagi kita bahwa mengimani dan mengikuti Rasul menjadi sesuatu yang sangat penting.
Diantara misi para nabi, khususnya Rasulullah Saw adalah :
1. Memperkenalkan dan Menyembah Allah SWT
Manusia yang lemah sangat membutuhkan penyembahan kepada yang Maha Kuat. Karena itu manusia sangat penting diperkenalkan tentang Tuhan Yang Maha Kuasa, sehingga manusia menyembah kepada Tuhan yang benar. Bila tidak, maka manusia akan mencari sendiri Tuhan itu dan sangat banyak manusia yang akhirnya tidak menemukan Tuhan yang benar.
Karena itu Allah Swt mengutus para Rasul dari Adam As sampai Muhammad Saw guna memperkenalkan kepada manusia bahwa sesungguhnya yang berkuasa di dunia dan akhirat adalah Allah Swt. Setiap orang harus menghamba kepada-Nya.
Allah Swt berfirman : "Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya : "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang benar) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku" (Qs. Al Anbiyaa : 25)
2. Menegakkan dan Menjaga Agama
Agama merupakan salah satu kebutuhan manusia dalam hidup ini. Tanpa berpedoman pada agama yang benar kehidupan manusia akan kacau balau. Kenyataan ini telah berlangsung dari generasi ke generasi, dari abad ke abad sehingga bila suatu masyarakat mengabaikan tuntunan agama yang benar, maka kekacauan akan terus terjadi.
Dengan demikian, kedudukan islam sebagai satu-satunya agama yang benar menjadi sangat penting. Karena itu Rasul juga diutus untuk menegakkan agama Islam yang benar meskipun tantangannya begitu besar.
Allah Swt berfirman : "Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar. Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik benci." (QS. Ash Shaf : 9)
3. Membawa Berita Gembira dan Peringatan
Allah Swt mengutus para Rasul yang salah satu tugasnya adalah dengan membawa berita gembira dengan menjanjikan surga bagi manusia yang mau berbuat kebaikan, serta memberi peringatan dan ancaman siksa neraka yang begitu pedih bagi orang yang tidak mau berlaku baik. Dengan berita gembira dan ancaman yang disampaikan para Rasul, diharapkan manusia akan mengikuti segala ketentuan islam yang dibawa para Rasul.
Allah Swt berfirman : "(Maka Kami utus) selaku Rasul-rasul pembawa berita gembira dan peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya Rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS An Nisaa : 165)
4. Memberikan Keteladanan yang Positif
Manusia tentu menghendaki kehidupan dunia yang baik yang berakibat pada kehidupan yang baik pula di akhirat. Untuk bisa menjalani kehidupan yang baik itu diperlukan keteladanan yang baik. Apalagi meniru orang lain merupakan salah satu bagian yang terpisahkan pada diri manusia.
Dalam katian ini diperlukan figur-figur teladan dalam membentuk kepribadian manusia. Allah Swt menjadikan Rasulullah Saw sebagai teladan yang harus ditiru oleh umat manusia.
Allah swt berfirman : "Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (QS. Al Ahzaab : 21)
5. Mengatasi Perselisihan
Di dunia ini banyak sekali persoalan atau permasalahan yang tidak semua bisa dipecahkan dan di atasi. Akibatnya sering terjadi perselisihan antara manusia satu dengan yang lainnya. Bahkan tak sedikit akibat dari perselisihan itu hubungan baik sesama manusia jadi terputus.
Agar persoalan dan permasalahan bisa teratasi dan terpecahkan, maka Allah mengutus para Nabi. Allah swt berfirman : "Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur'an) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka perselisihan itu dan menjadi petunjuk serta rahmat bagi kaum yang beriman." (QS An Nahl : 64)
6. Menyelamatkan Manusia dari Kesesatan
Dari jaman ke jaman terdapat manusia yang sesat dari jalan hidup yang benar. Kesesatan itu tejadi karena manusia tidak mau menggunakan petunjuk-petunjuk yang datang dari Allah swt. Kesesatan manusia tidak hanya mengakibatkan kerugian dan penderitaan terhadap sesama, tapi yang lebih penting lagi adalah menurunnya martabat manusia menjadi rendah bahkan lebih rendah dari derajat binatang.
Dengan kesesatan itu jiwa manusia menjadi kotor dan dengan kekotoran jiwa manusia sulit menerima nasihat-nasihat yang bisa mengarahkan jalah hidupnya pada jalan yang benar. Karena itu Allah Swt mengutus Rasul guna membacakan ayat-ayat Allah, mensucikan jiwa mereka lalu menanamkan ke dalam hati mereka petunjuk yang berasal dari kitab dan sunah, agar manusia kembali ke jalan yang benar.
Allh swt berfirman : "Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul diantara mereka, yang membacakan ayat-ayatNya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengerjakan kepada mereka kitab dan hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata." (QS Al Jum'ah : 2)
Tugas Utama Wanita
"Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah”. Asma’ binti Abu Bakar ra. pernah datang menghadap Ra...
-
"Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah”. Asma’ binti Abu Bakar ra. pernah datang menghadap Ra...
-
Bismillaahirrahmaanirrahiimi, Sabda Rasulullah SAW : “Seorang wanita biasanya dinikahi karena empat hal,yaitu karena hartanya, karena nas...
-
Bismillahirrahmaanirrahiim.. Seorang lelaki pernah datang kepada Imam Abu Hanifah rahimahullah, kemudian bertanya, "Bila saya sudah me...