Saturday, 30 January 2016

Tugas Utama Wanita


"Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah”.

Asma’ binti Abu Bakar ra. pernah datang  menghadap Rasulullah SAW mewakili kaumnya untuk menanyakan kedudukan dan tugasnya sebagai wanita, yang serba terbatas dalam andil dan kesempatan beramal shalih.

“Wahai rasulullah, sesungguhnya Allah mengutamakan laki-laki dan wanita, maka kami mengimanimu dan mengikutimu. Dan kami para wanita serba terbatas dan kurang (dalam ‘amaliyah). Tugas kami hanyalah menjaga rumah dan melayani laki- laki. Kami mengandung anak-anak mereka. Sedang kaum laki-laki memiliki keutamaan dengan berjama’ah, mengurus jenazah dan berjihad. Apabila mereka berjihad, kami jaga harta mereka dan memelihara anak mereka. Apakah kami dapat menyamai mereka dalam pahala wahai Rasulullah?”

Rupanya wanita yang mewakili kaumnya tersebut merasa heran mereka tidak cukup pentind dan besar dibandingkan dengan pria. Namun, dibalik pertanyaan itu terkandung keagungan wanita generasi pertama, dalam kecintaan beramal dan berjihad islam. Yang membuat wanita iri,justru karena kaum laki-laki lebih punya banyak kesempatan untuk beramal dan berjihad. Bukan lantaran keinginan untuk bebas merdeka dari tugas-tugas rutin sebagai wanita, seperti mengandung, melahirkan, mendidik anak dan menjaga harta suami.
Namun anggapan bahwa tugas pria itu lebih penting dari para wanita, ternyata tidak dibenarkan. Rasulullah saw bersabda :

“Pernahkan kalian mendengar dari wanita pertanyaan yang lebih baik dari pertanyaan ini? Kalau semua itu (tugas-tugas rutin wanita) kalian lakukan dengan sebaik-baiknya niscaya kalian akan mendapatkan pahala sebagaimana yang didapatkan suami-suami kalian”,

Inilah yang mesti dipahami setiap muslim bahwa sesungguhnya tugas utama kaum wanita yang sering dianggap remeh oleh kebanyakan wanita masa kini, sebenarnya memiliki nilai yang besar dalam ajaran islam.
Secara garis besar ada 3 tugas utama wanita, yang membuatnya memiliki derajat yang mulia, yaitu :

Wanita Sebagai Ibu Generasi

Mengandung dan melahirkan adalah tugas wanita yang tidak bisa digantikan oleh siapapun. Dari wanita lahir generasi baru,yang akan menentukan hari depan umat menggantikan pejuang-pejuang sebelumnya.
Allah mengumpamakan wanita sebagai lahan (hartsun), tempat menyemai binih dan menumbuhkan bibit baru. Jika ladang itu baik, niscaya baik pula apa yang tumbuh disana. Sebaliknya, jika ladang tersebut jelek berarti buruk pula apa-apa yang hidup diatasnya.
Oleh karena tiu tidak heran kalau musuh-musuh isalm berupaya merusah ladang ini dengan berbagai macam cara. Sebagaimana firman Allah swt :

“Apabila kalian berpaling, niscaya ia (orang-orang kafir) berjalan dibumi untuk mengadakan kerusakan padanya,menghancurkan ladang-ladang dan tanaman”. (QS Al Baqarah : 205)

Wanita Sebagai Pendidik Generasi

“Apabila mereka keluar untuk berjihad, kami jaga harta mereka”.
 
Hal ini menunjukkan peran wanita sebagai murabbiyan (pendidik) bagi anak-anak. Dengan kelembutan dan kasih sayang, wanita berkewajiban menjadikan kader-kader isalm sebagai seorang muslim kaffah (seutuhnya). Firman Allah swt :

“Dan ingatlah akan apa-apa yang dibaca dirumah-rumah kalian dari ayat-ayat Allah dan Al Hikmah (sunah nabi)”. (QS AlAhzab : 33)

Ini merupakah peringatan bagi para ibu untuk mendidik anak dengan Al Quran, memahamkan mereka dan menanamkan nilai-nilai Islam dari diri mereka. Mengajari mereka dengan Al Hikmah (sunah nabi) agar lahir generasi yang bijak.
Kualitas generasi tergantung dari pendidiknya, apakah nantinya menjadi penghuni surga atau neraka. Pada dasarnya setiap bayi itu lahir dengan kondisi fitri. Ia seperti kertas putih yang berlum terulis. Tinggal apa yang dituliskan diatasnya dan siapa yang menuliskan.

“Tiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka orang tuanya yang akan menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi”. 

Wanita Sebagai Basis Rumah Tangga

Wanita ditakdirkan sebagi tempat untuk mendapatkan ketenangan (sakinah), kasih dan sayang (mawaddah dan rahmah) sebagaimana firman Allah Swt :

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri,supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih sayang”. (QS Ar Ruum : 21)

Wanita secara fitrah memang basis rumah tangga tempat pulang bagi suami dan anak-anak. Disana suami akan mendapatkan ketenangan setelah lelah dan anak akan mendapatan pendidikan serta rasa aman. Oleh karena itu Allah juga berfirman :

“Dan tetaplah tinggal dirumah-rumah dan janganlah kalian berhias dengan cara jahiliyah”. 
(QS Al Ahzab : 33)

Semoga para wanita Islam mampu mewujudkan tugas-tugas mulia tersebut. Amiin...

Wednesday, 27 January 2016

HIkmah

Diriwayatkan oleh Ad-Darimi dan Al Baihaqi dalam Asy-Syu'ab dari Ibu Mas'ud ra. bahwa dia berkata : "Barang siapa yang membaca sepuluh ayat dari surat Al Baqarah di permulaan siang, maka ia tidak akan didekati syaitan sampai sore. Dan jika membacanya sore hari, maka ia tidak akan di dekati oleh syaitan sampai pagi dan ia tidak akan melihat sesuatu yang dibendi pada keluarga dan hartanya".

Diriwayatkan juga oleh Ath-Thabrani dalam Kitab Al Kabair dan Al Hakim dalam Shahihnya, Dari Ibu Mas'ud ra, Nabi Saw bersabda :
"Barangsiapa membaca sepuluh ayat ; empat ayat di awal surat Al Baqarah, ayat kursi dan dua ayat sesudahnya, serta ayat-ayat terakhir dari Al Baqarah tersebut, maka rumahnya tidak akan dimasuki syaitan sampai pagi".

Dari Abu Umamah ra bahwa Rasulullah Saw bersabda :
" Barangsiapa membaca ayat-ayat terakhir surat Al Hasyir pada waktu malam atau siang maka Allah akan menjamin baginya syurga". (HR Al Baihaqi)

Sunday, 24 January 2016

Diam

Dari Abu Hurairah ra diceritakan bahwa Rasulullah saw bersabda :
"Barangsiapa yang beriman kepada Allah swt dan hari akhir maka janganlah menyakiti tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah swt dan hari akhir,hendaknya ia memuliakan tamunya. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah swt dan hari akhir hendaknya ia berkata baik atau diam."

Uqbah bin Amir menceritakan, "saya bertanya kepada Rasulullah saw "Apakah keselamatan itu?" Beliau menjawab," Jagalah lisanmu, perluaslah rumahmu, dan menangislah akan dosa-dosamu."

Diam adalah pondasi keselamatan dan merupakan penyesalan terhadap berbagai celaan. Oleh karena itu kewajiban diam di tetapkan oleh syara', perintah dan larangan. Sedangkan diam pada saat-saat tertentu adalah sifat pemimpin, sebagaimana ungkapan bahwa berbicara pada tempatnya termasuk perilaku yang baik.

Abu Ali Ad Daqqaq berkata, "Barangsiapa yang mendiamkan kebenaran,maka ia ibarat syetan yang bisu."
Sikap diam sambil memperhatikan merupakan bagian dari perilaku orang-orang yang baik. Allah swt berfirman :
"Apabila dibacakan AlQuran maka hendaklah di dengarkan dan diperhatikan agar kamu sebagian mendapatkan rahmat."
QS Al A'Raaf 204

Menyimpan mulut didepan orang yang diam merupakan sikap yang baik untuk menghindari kebohongan, umpatan dan kekejaman raja.

Diam terbagi menjadi 2, yaitu diam secara lahir dan diam secara bathin. Orang yang bertawakal hatinya selalu diam dengan meninggalkan berbagai tuntutan ekonomi. Sedangkan orang yang berma'rifat hatinya akan selalu diam dengan mempertemukan ketetapan hukum melalui sikap yang baik. Oleh karena itu perbuatan yang baik adalah yang dapat dipercaya, sedangkan ketetapan yang baik adalahhal yang dapat diterima.

Dzunun Almisri pernah di tanya oleh seseorang, "siapakah yang mampu menjaga diri?"
"Orang yang betul-betul menjaga mulutnya"
Jawaabnya.

Menurut suatu riwayat, Abu Bakar Ashshidiq meletakkan batu kecil didalam mulut beliau agar bicaranya dapat diminimalkan.

Sebgian ahli hikmah telah berkata "Manusia diciptakan Allah swt dengan mempunyai satu mulut, dua mata dan dua telinga agar dia dapat mendengar dan melihat lebih banyak dari apa yang dia katakan".

Sumber : Risalah al qusyairiyah


Saturday, 23 January 2016

Semua Balasan dan Pahala adalah dari Allah swt

Allah swt tidak akan menarik suatu kenikmatan melainkan Dia akan menggantikannya dengan yang lebih baik. Tentunya, hal ini kita dapat bersabar dan selalu mengharap balasan pahala dari Allah swt.
Rasulullah saw bersabda ;
"Barangsiapa Aku (Allah swt) cabut penglihatan kedua matanya, lalu dia bersabar, maka Aku akan menggantikannya dengan balasan syurga."

Barangsiapa kehilangan anaknya dan dia bersabar, maka Allah akan membina rumah yang dinamakan dengan rumah Al Hamd di dalam syurga. Janganlah pernah mengeluh terhadap satu musibah, sebab apabila satu musibah menimpa seseorang maka Allah akan memberikan pahala, pengganti dan ganjaran yang melimpah disisi Allah swt.

Allah swt berfirman ;
"(Sambil mengucapkan) Salamun 'alaikum bima shabartum. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu." (QS 13 : 24)

Maka berbahagialah kepada orang yang dilanda musibah dah tahniah kepada mereka yang di timpa bala bencana.

Usia dunia ini sangatlah pendek dan perbendaharaannya sedikit. Sementara akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. Siapa yang mengalami kesusahan di alam dunia, maka dia akan menjalani hidup tentram di alam akhirat.
Apasaja yang terdapat di sisi Allah swt adalah lebih baik, kekal, bahagia,mulia agung dan lebih terhormat.

Sumber :
khamsata wa 'isyruuna sababan lis-sa'adah -
Dr. 'Aidh bin Abdullah Al Qarny

Friday, 22 January 2016

Etika Bercanda Dalam Islam

Bismillahirrahmaanirrahiim..

Seorang lelaki pernah datang kepada Imam Abu Hanifah rahimahullah, kemudian bertanya, "Bila saya sudah melepas baju dan hendak menyebur ke sungai untuk mandi, apakah saya harus menghadap kiblat?"
Mendengar pertanyaan itu, Imam Abu Hanifah langsung menjawab, "Yang lebih afdhal hendaknya wajahmu menghadap ke arah bajumu supaya tidak di curi orang."
Canda sang Imam langsung mengundang senyum orang-orang yang ada di sekitarnya. Canda merupakan bumbu dalam kehidupan, secukupnya saja di taburkan sebagai penghias kehidupan.
Islam sebagai agama yang paling sempurna tidak lepas dalam memberikan adab dalam bercanda. Diantara adab bercanda yang harus diperhatikan antara lain ;

1. Tidak berbohong dalam bercanda
Rasulullah saw mengecam mereka yang membuat tertawa orang lain dengan membohonginya.
"Celakalah bagi orang yang berbicara (bercerita) lalu berbohong untuk membuat orang-orang tertawa dengan cerita bohongnya itu. Celaka baginya! Celaka baginya! Celaka baginya!" (shaihul jaami')

2. Tidak berlebih-lebihan dalam bercanda
Rasulullah saw pernah bersabda kepada Abu Hurairah ra "janganlah engkau banyak tertawa, karna sesungguhnya banyak tertawa itu mematikan hati." (shahihul jaami')

3. Tidak mempermainkan sesama muslim
Bercanda bila sudah kelewat batas menyebabkan seseorang mempunyai sifat iseng. Seakan akan tidak ada lagi perbuatan yang lebih baik daripada yang ia lakukan.
Rasulullah saw berpesan, "Janganlah seseorang melakukan perbuatan yang dapat mendatangkan mudharat bagi dirinya dan orang lain". (Hadist syarif)

4. Tidak mengolok-olok dan menghina orang lain serta tidak melakukan ghibah.
Tergelincirnya lidah bisa disebabkan oleh canda yang tidak proporsional, sehingga meluas tidak terkendali. Dan bila setan sudah ikut andil didalamnya maka mulailah saling olok dan hina diantara mereka untuk memancing tawa.
Sebagaimana yang dikhawatirkan khalifah Umar bin Abdul Aziz, "Takutlah kalian pada canda, karena canda yang dungu dapat mewariskan rasa dengki."

5. Tidak memperolok AlQuran dan sunnah Rasululllah saw
Dalam hal ini Allah swt berfirman dalam surat At Taubah ;65 yang artinya ;
"Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan), tentulah mereka akan menjawab : Sesungguhnyabkami hanya bersenda gurau dan bermain main saja. Katakanlah: Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu berolok-olok."

Satu hal yang harus diperhatikan seorang muslim adalah Rasulullah saw memerintahkan agar meninggalkan hal-hal yang tidak berguna. Sebagaimana dalam sabda Rasulullah saw ;
" Sebagian dari tanda bagusnya kualitas keislaman seseorang adalah jika mampu meninggalkan hal-hal yang tidak berguna baginya." (HR Muslim)

Wednesday, 18 November 2015

Nasihat Rasulullah SAW

Rasulullah SAW pernah memberikan tiga nasihat kepada kedua sahabatnya Abu Dzar dan Abu Abdurrahman bin Jabal ;
"Bertaqwalah kepada Allah SWT dimanapun kamu berada, dan ikutilah kesalahanmu dengan kebaikan niscaya ia dapat menghapuskannya. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak terpuji." (HR Tirmidzi)

Dalam nasihat Rasulullah SAW diatas layak kita perhatikan sebab berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

Bertaqwalah dimanapun berada

Nasihat Nabi SAW ini menunjukkan bahwa kita harus senantiasa menjaga ketaqwaan kita setiap saat. Menjaga ketaqwaan memang tidaklah mudah, kecuali dengan usaha yang ekstra keras.

Suatu ketika sahabat Umar bin Khatab bertanya kepada Ubay bin Ka'ab,
"Apakah taqwa itu?"
Ubay bin Ka'ab balik bertanya ;
"Pernahkah kamu melalui jalan yang berduri?"
Umar menjawab "Pernah"
Ubay menyambung "Lalu apa yang kamu lakukan?"
Umar mnjawab "Aku berhati-hati, waspada,  dan penuh kesungguhan."
Maka Ubay berkata "Maka demikian pulalah taqwa."

Kebaikan yang menghapus kesalahan

Setiap manusia pasti pernah melakukan salah/dosa, baik yang kita sadari maupun yang tidak kita sadari.
Untuk dosa yang merugikan diri sendiri, maka salah satu cara untuk menghapusnya adalah dengan bersedekah. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW "seedekah itu menghapus kesalahan sebagaimana air memadamkan api"
Sedangkan dosa yang dilakukan terhadap orang lain maka yang perlu dilakukan adalah mohon maaf yang bagi orang sangat sulit untuk dilakukan. Padahal Rasul SAW selalu meminta maaf ketika bersalah bahkan terhadap Ibnu Ummi Maktum beliau memeluknya dengan hangat seraya bekata "inilah orangnya, yang membuat aku di tegur oleh Allah SWT... (QS Abassa)
Lalu bawalah hadiah atau makanan kepada orng tersebut, begitulah anjuran Rasul SAW.

Akhlak yang terpuji

Akhlak adalah tata niai dan aturan perilaku bagi seorang muslim. Akhlk terpuji adalah keharusan dari setiap muslim.
Dari beberapa jenis akhlak kit terhadap orang lain , yang perlu kita perhatikan adalah akhlak terhadap tetangga.

"Barang siapa yang beriman kepada allah dan hari akhir maka janganlah menyakiti tetangganya." (HR Bukhari,Muslim dan Ibnu Majah)

Demikian nasihat Rasulullah SAW, semoga kita mampu untuk melaksanakan nasihat tersebut. Amin

Friday, 30 October 2015

Jenis Hati Manusia

Dilihat dari keadaannya, hati manusia dapat digolongkan menjadi 3 :

Pertama. Hati yang bersih, sehat dan selamat (Al qolbu as saliimu)

Hati ini adalah milik orang-orang beriman. Ia adalah hati yang terbebas dari penyakit, iri, dengki, hasad, riya, sum’ah dll. Hanya orang yang berhati bersih sajalah yang dijamin keselamatannya kelak dihadapan Allah SWT.

 يَوۡمَ لَا يَنفَعُ مَالٞ وَلَا بَنُونَ ٨٨ إِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبٖ سَلِيمٖ ٨٩ 

(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. (QS Asy Syu’ara : 88 – 89)

Kedua.
Hati yang sakit dan berpenyakit (Al qolbu al mariidhu) 

Ini adalah hati orang munafik. Orang yang penyataan lisan berbeda dengan kenyataan hatinya. Orang yang hanya mencari keuntungan dan keselamatan pribadi tanpa mau peduli diatas jalan benar atau salah.

Dari Abdullah bin Amru dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Ada empat perkara, barangsiapa yang empat perkara tersebut ada pada dirinya maka dia menjadi orang munafik sejati, dan apabila salah satu sifat dari empat perkara tersebut ada pada dirinya, maka pada dirinya terdapat satu sifat dari kemunafikan hingga dia meninggalkannya:
1.    jika berbicara selalu bohong,
2.    jika melakukan perjanjian melanggar,
3.    jika berjanji selalu ingkar,
4.    dan jika berselisih licik."
    (HR. Muslim No. 88)

Orang munafik semacam ini kelak akan ditempatkan di keraknya neraka.

إِنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ فِي ٱلدَّرۡكِ ٱلۡأَسۡفَلِ مِنَ ٱلنَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمۡ نَصِيرًا ١٤٥

Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. (QS An Nisa 145)
  
Ketiga.
  Hati yang buta, hati yang mati atau tertutup (Al qolbu al mayyitu) 

Hati ini adalah hati orang kafir, antheis, orang yang tidak beriman kepada rukun iman. Para ulama mensifati hati ini dengan ungkapan “Laa ya’riful haqqa” artinya tidak mengenal kebenaran.
   
إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ سَوَآءٌ عَلَيۡهِمۡ ءَأَنذَرۡتَهُمۡ أَمۡ لَمۡ تُنذِرۡهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ ٦

خَتَمَ ٱللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ وَعَلَىٰ سَمۡعِهِمۡۖ وَعَلَىٰٓ أَبۡصَٰرِهِمۡ غِشَٰوَةٞۖ وَلَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٞ ٧

Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat. (QS Al Baqarah : 6-7)
 

Thursday, 29 October 2015

Dunia Butuh Islam

Bismillaahirrohmaanirrohiim..

وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا كَآفَّةٗ لِّلنَّاسِ بَشِيرٗا وَنَذِيرٗا وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ٢٨

Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. (QS. Saba’ : 28)

Sekarang ini manusia dilanda berbagai persoalan yang sangat pelik. Satu masalah belum selesai diatasi dan dipecahkan sudah muncul lagi persoalan yang lebih pelik. Persoalan rusaknya moralitas masyarakat juga melanda dimana-mana. Sementara dalam masalah ekonomi karena sistem yang tidak benar dan moralitas pengendali ekonomi yang bobrok, maka yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin.

Persoalan hidup yang begitu banyak telah membuat manusia tidak tahu harus berbuat apa dalam hidup ini. Akibatnya apa saja yang dilakukan oleh manusia tanpa mempertimbangkan baik dan buruk. Maka terjadilah kerusakan yang ditimbulkan dimuka bumi ini baik kerusakan secara fisik maupun kerusakan secara moral.

Allah SWT memang telah mensinyalir berbagai kerusakan yang terjadi dimuka bumi ini merupakan akibat dari perbuatan manusia sendiri, Allah SWT berfirman :

ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِي ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِي عَمِلُواْ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ ٤١

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).  (QS Ar Rum : 41)

Perbuatan mereka yang suka merusak itu disebabkan karena meraka menduga apa yang dilakukan manusia didunia ini tak ada pertanggung jawabannya dalam kehidupan akhirat nanti. Prinsip mereka itu telah dikemukakan oleh Allah SWT dalam firmannya :

وَقَالُوٓاْ إِنۡ هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا ٱلدُّنۡيَا وَمَا نَحۡنُ بِمَبۡعُوثِينَ ٢٩

Dan tentu mereka akan mengatakan (pula): "Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia ini saja, dan kita sekali-sekali tidak akan dibangkitkan" (QS. AlAn’am : 29)

Berbagai persoalan yang melanda umat manusia di dunia ini tak boleh dibiarkan terus berlangsung, manakala kita tak ingin terjadi yang lebih besar lagi. Untuk bisa memecahkan persoalan dunia ini, tentu saja harus dengan ajaran atau ideologi yang memang mampu mengatasinya. Ajaran atau ideologi yang mampu mengatasi berbagai persoalan dunia sekarang dan masa yang akan datang tidak lain dan tidak bukan adalah ISLAM.

Ada beberapa alasan yang menyebabkan Islam sangat dibutuhkan oleh umat manusia di dunia ini dalam mengatasi berbagai persoalan kehidupan.

1. Orientasi ajaran Islam selalu mengarah pada kebaikan, perbaikan dan kebenaran yang kemudian disebut dengan kemaslahatan hidup.

2. Islam merupakan satu-satunya agama yang ajarannya syamil (menyeluruh) dalam arti agama yang mengandung aturan untuk mengatur berbagai aspek kehidupan.

3.  Islam merupakan agama yang universal, sehingga berlakunya ajaran Islam tidak hanya di satu tempat, tetapi juga di berbagai belahan bumi lainnya.

4.  Islam merupakah agama yang berdasarkan wahyu yang kebenarannya mutlak, sementara ideologi lain merupakan hasil pemikiran manusia yang sangat terbatas.

5.  Dari segi penegakan hukum, ditengah-tengah begitu rusaknya moralitas umat manusia sekarang ini yang berakibat timbulnya berbagai malapetaka, sangat diperlukan adanya sistem hukum yang adil, tegas dan tentu saja rasional. Hukum-hukum lain sama sekali tidak bisa diandalkan, hanya hukum dalam Islamlah yang bisa dijadikan pedoman.

Demikianlah secara umum beberapa alasan mengapa Islam menjadi kebutuhan umat manusia, dan tentu masih banyak alasan lainnya. Tugas kita sekarang adalah bagaimana kita bisa meyakinkan kepada dunia bahwa mereka sebenarnya butuh kepada Islam, cuma kebanyakan tidak menyadarinya.

Maka bila hari ini kita mendambakan keadilan, ketentraman, kedamaian atau kebahagiaan, segeralah kembali kepada Islam.

Wallahu a’lam bi shawwab...




Tuesday, 15 April 2014

Sunah Setelah Bangun Tidur

Islam adalah agama yang indah, setiap aspek kehidupan telah diatur ataupun sudah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Salah satu yang akan kita bahas di sini adalah sunah-sunah Rasulullah SAW setelah bangun tidur. Berikut ini sunah-sunah Rasulullah SAW setelah bangun tidur ;

1. Membasuh wajah dengan tangan.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda , “Rasulullah kemudian bangun tidur, lalu duduk sambil mengusap (bekas) tidur di wajah beliau dengan tangan beliau”. (HR. Muslim)

2. Membaca doa bangun tidur.
Alhamdulillaah illadtii ahyanaa ba’da maa a maa tanaa wa i layhi nnusyuw ru.
Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan aku setelah mematikan aku dan kepada-Nya-lah aku kembali. (HR. Bukhari)

3. Memakai siwak.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam ketika bangun tidur menggosok mulutnya dengan siwak”. (Muttafaq’alaih)

4. Menghisap air ke dalam hidung.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Tatkala salah seorang di antara kalian bangun tidur, hendaklanya dia menghisap air ke hidung sebanyak tiga kali, sesungguhnya setan menginap di lubang hidungnya.” (Muttafaq ‘alaih)

5. Membasuh kedua belah tangan tiga kali.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Ketika salah seorang di antara kalian bangun dari tidurnya hendaknya dia tidak mencelupkan tangannya ke dalam tempat (air) sampai dia membasuh tangannya itu sebanyak tiga kali.” (Muttafaq ‘alaih)

Itulah sunah-sunah setelah bangun tidur yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, semoga dengan kita menjalankan sunah-sunah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, kita bisa mendapatkan syafaatnya di yaumul akhir nanti. Amin



Keutamaan Menuntut Ilmu

Menuntut ilmu merupakah sebuah aktivitas yang mutlak diperlukan setiap manusia, terlebih manusia mukmin. Apabila kita perhatikan isi Al Qur'an dan Al Hadist, maka akan kita dapati banyak perintah yang mewajibkan setiap muslim laki-laki maupun perempuan untuk menuntut ilmu, antara lain :

"Menuntut ilmu adalah fardlu bagi tiap-tiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan." (HR. Ibnu Abdu Bari)

"Barang siapa menginginkan kebahagiaan di dunia, wajiblah ia memiliki ilmu, dan barang siapa yang ingin (selamat dan bahagia) di akhirat, wajiblah ia mengetahui ilmunya pula, dan barangsiapa yang menginginkan kedua-duanya, wajiblah ia memiliki ilmu tentang keduanya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Bagi seorang muslim, menuntut ilmu merupakan ibadah yang sangat afdhal. Disamping akan mendapatkan penghargaan disisi manusia, disisi Allah pun para ahlul 'ilmi memiliki kedudukan yang sangat mulia. Diantara keutamaan menuntut ilmu antara lain ;

1. Mendapatkan pahala yang besar di sisi Allah SWT

"Sungguh sekiranya engkau melangkahkan kaki di waktu pagi (maupun petang) kemudian mempelajari satu ayat dari kitab Allah, maka pahalanya lebih baik daripada ibadah satu tahun." (Hadist Syarif)

2. Diangkat derajatnya disisi Allah dan disisi manusia

"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu pengetahuan diantara kamu beberapa derajat." (QS. Al Mujadalah : 11)

3. Dapat membentengi umat dai kesesatan para penyesat

"Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dari dada-dada manusia, melainkan Ia mencabutnya dengan cara mematikan para ulama. Dan dikala tidak ada lagi seorang alim pun yang hidup, manusia akan menjadikan orang-orang bodoh (dari sisi agama) sebagai pemimpin. kemudian mereka ditanya (dimintai fatwa). Mereka (orang yang jahil tsb) berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka menjadi sesat dan menyesatkan." (HR. Bukhari)

4. Merupakah salah satu jalan utama mencapai surga

"Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah memudahkan baginya dengan ilmu itu jalan untuk masuk surga." (HR. Muslim)

5. Sebaik-baik aktivitas

"Sebaik-baik dari kalian adalah (orang) yang mempelajari Al Qur'an dan mengajarkannya." (HR. Bukhari)

Tuesday, 30 April 2013

Bila Hati Bercahaya


Adakah diantara kita yang merasa mencapai sukses hidup karena telah berhasil meraih segalanya : harta, gelar, pangkat, jabatan, dan kedudukan yang telah menggenggam seluruh isi dunia ini? Marilah kita kaji ulang, seberapa besar sebenarnya nilai dari apa-apa yang telah kita raih selama ini.

Di sebuah harian pernah diberitakan tentang penemuan baru berupa teropong yang diberi nama telescope Hubble. Dengan teropong ini berhasil ditemukan sebanyak lima milyar gugusan galaksi. Padahal yang telah kita ketahui selama ini adalah suatu gugusan bernama galaksi bimasakti, yang di dalamnya terdapat planet-planet yang membuat takjub siapa pun yang mencoba bersungguh-sungguh mempelajarinya. Matahari saja merupakan salah satu planet yang sangat kecil, yang berada dalam gugusan galaksi di dalam tata surya kita. Nah, apalagi planet bumi ini sendiri yang besarnya hanya satu noktah. Sungguh tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan lima milyar gugusan galaksi tersebut. Sungguh alangkah dahsyatnya.

Sayangnya, seringkali orang yang merasa telah berhasil meraih segala apapun yang dirindukannya di bumi ini – dan dengan demikian merasa telah sukses – suka tergelincir hanya mempergauli dunianya saja. Akibatnya, keberadaannya membuat ia bangga dan pongah, tetapi ketiadaannya serta merta membuat lahir batinnya sengsara dan tersiksa. Manakala berhasil mencapai apa yang diinginkannya, ia merasa semua itu hasil usaha dan kerja kerasnya semata, sedangkan ketika gagal mendapatkannya, ia pun serta merta merasa diri sial. Bahkan tidak jarang kesialannya itu ditimpakan atau dicarikan kambing hitamnya pada orang lain.
Orang semacam ini tentu telah lupa bahwa apapun yang diinginkannya dan diusahakan oleh manusia sangat tergantung pada izin Allah Azza wa Jalla. Mati-matian ia berjuang mengejar apa-apa yang dinginkannya, pasti tidak akan dapat dicapai tanpa izin-Nya. Laa haula walaa quwwata illaabillaah! Begitulah kalau orang hanya bergaul, dengan dunia yang ternyata tidak ada apa-apanya ini.
Padahal, seharusnya kita bergaul hanya dengan Allah Azza wa Jalla, Zat yang Maha Menguasai jagat raya, sehingga hati kita tidak akan pernah galau oleh dunia yang kecil mungil ini. Laa khaufun alaihim walaa hum yahjanuun! Samasekali tidak ada kecemasan dalam menghadapi urusan apapun di dunia ini. Semua ini tidak lain karena hatinya selalu sibuk dengan Dia, Zat Pemilik Alam Semesta yang begitu hebat dan dahsyat.
Sikap inilah sesungguhnya yang harus senantiasa kita latih dalam mempergauli kehidupan di dunia ini. Tubuh lekat dengan dunia, tetapi jangan biarkan hati turut lekat dengannya. Ada dan tiadanya segala perkara dunia ini di sisi kita jangan sekali-kali membuat hati goyah karena toh sama pahalanya di sisi Allah. Sekali hati ini lekat dengan dunia, maka adanya akan membuat bangga, sedangkan tiadanya akan membuat kita terluka. Ini berarti kita akan sengsara karenanya, karena ada dan tiada itu akan terus menerus terjadi.
Betapa tidak! Tabiat dunia itu senantisa dipergilirkan. Datang, tertahan, diambil. Mudah, susah. Sehat, sakit. Dipuji, dicaci. Dihormati, direndahkan. Semuanya terjadi silih berganti. Nah, kalau hati kita hanya akrab dengan kejadian-kejadian seperti itu tanpa krab dengan Zat pemilik kejadiannya, maka letihlah hidup kita.
Lain halnya kalau hati kita selalu bersama Allah. Perubahan apa saja dalam episode kehidupan dunia tidak akan ada satu pun yang merugikan kita. Artinya, memang kita harus terus menerus meningkatkan mutu pengenalan kita kepada Allah Azza wa Jalla.
Di antara yang penting yang kita perhatikan sekiranya ingin dicintai Allah adalah bahwa kita harus zuhud terhadap dunia ini. Rasulullah SAW pernah bersabda, "Barangsiapa yang zuhud terhadap dunia, niscaya Allah mencintainya, dan barangsiapa yang zuhud terhadap apa yang ada di tangan manusia, niscaya manusia mencintainya."
Zuhud terhadap dunia bukan berarti tidak mempunyai hal-hal yang bersifat duniawi, melainkan kita lebih yakin dengan apa yang ada di sisi Allah daripada apa yang ada di tangan kita. Bagi orang-orang yang zuhud terhadap dunia, sebanyak apapun yang dimiliki sama sekali tidak akan membuat hati merasa tentram karena ketentraman itu hanyalah apa-apa yang ada di sisi Allah.
Rasulullah SAW bersabda, "Melakukan zuhud dalam kehidupan di dunia bukanlah dengan mengharamkan yang halal dan bukan pula memboroskan kekayaan. Zuhud terhadap kehidupan dunia itu ialah tidak menganggap apa yang ada pada dirimu lebih pasti daripada apa yang ada pada Allah." (HR. Ahmad, Mauqufan)
Andaikata kita merasa lebih tentram dengan sejumlah tabungan di bank, maka berarti kita belum zuhud. Seberapa besar pun uang tabungan kita, seharusnya kita lebih merasa tentram dengan jaminan Allah. Ini dikarenakan apapun yang kita miliki belum tentu menjadi rizki kita kalau tidak ada izin Allah.
Sekiranya kita memiliki orang tua atau sahabat yang memiliki kedudukan tertentu, hendaknya kita tidak sampai merasa tentram dengan jaminan mereka atau siapa pun. Karena, semua itu tidak akan datang kepada kita, kecuali dengan izin Allah.
Orang yang zuhud terhadap dunia melihat apapun yang dimilikinya tidak menjadi jaminan. Ia lebih suka dengan jaminan Allah karena walaupun tidak tampak dan tidak tertulis, tetapi Dia Mahatahu akan segala kebutuhan kita.jangan ukur kemuliaan seseorang dengan adanya dunia di genggamannya. Sebaliknya jangan pula meremehkan seseorang karena ia tidak memiliki apa-apa. Kalau kita tidak menghormati seseorang karena ia tidak memiliki apa-apa. Kalau kita menghormati seseorang karena kedudukan dan kekayaannya, kalau meremehkan seseorang karena ia papa dan jelata, maka ini berarti kita sudah mulai cinta dunia. Akibatnya akan susah hati ini bercahaya disisi Allah.
Mengapa demikian? Karena, hati kita akan dihinggapi sifat sombong dan takabur dengan selalu mudah membeda-bedakan teman atau seseorang yang datang kepada kita. Padahal siapa tahu Allah mendatangkan seseorang yang sederhana itu sebagai isyarat bahwa Dia akan menurunkan pertolongan-Nya kepada kita.
Hendaknya dari sekarang mulai diubah sistem kalkulasi kita atas keuntungan-keuntungan. Ketika hendak membeli suatu barang dan kita tahu harga barang tersebut di supermarket lebih murah ketimbang membelinya pada seorang ibu tua yang berjualan dengan bakul sederhananya, sehingga kita mersa perlu untuk menawarnya dengan harga serendah mungkin, maka mulailah merasa beruntung jikalau kita menguntungkan ibu tua berimbang kita mendapatkan untung darinya. Artinya, pilihan membeli tentu akan lebih baik jatuh padanya dan dengan harga yang ditawarkannya daripada membelinya ke supermarket. Walhasil, keuntungan bagi kita justru ketika kita bisa memberikan sesuatu kepada orang lain.
Lain halnya dengan keuntungan diuniawi. Keuntungan semacam ini baru terasa ketika mendapatkan sesuatu dari orang lain. Sedangkan arti keuntungan bagi kita adalah ketika bisa memberi lebih daripada yang diberikan oleh orang lain. Jelas, akan sangat lain nilai kepuasan batinnya juga.
Bagi orang-orang yang cinta dunia, tampak sekali bahwa keuntungan bagi dirinya adalah ketika ia dihormati, disegani, dipuji, dan dimuliakan. Akan tetapi, bagi orang-orang yang sangat merindukan kedudukan di sisi Allah, justru kelezatan menikmati keuntungan itu ketika berhasil dengan ikhlas menghargai, memuliakan, dan menolong orang lain. Cukup ini saja! Perkara berterima kasih atau tidak, itu samasekali bukan urusan kita. Dapatnya kita menghargai, memuliakan, dan menolong orang lain pun sudah merupakan keberuntungan yang sangat luar biasa.
Sungguh sangat lain bagi ahli dunia, yang segalanya serba kalkulasi, balas membalas, serta ada imbalan atau tidak ada imbalan. Karenanya, tidak usah heran kalau para ahli dunia itu akan banyak letih karena hari-harinya selalu penuh dengan tuntutan dan penghargaan, pujian, dan lain sebagainya, dari orang lain. Terkadang untuk mendapatkan semua itu ia merekayasa perkataan, penampilan, dan banyak hal demi untuk meraih penghargaan.
Bagi ahli zuhud tidaklah demikian. Yang penting kita buat tatanan kehidupan ini seproporsional mungkin, dengan menghargai, memuliakan, dan membantu orang lain tanpa mengharapkan imbalan apapun. Inilah keuntungan-keuntungan bagi ahli-ahli zuhud. Lebih merasa aman dan menyukai apa-apa yang terbaik di sisi Allah daripada apa yang didapatkan dari selain Dia.
Walhasil, siapapun yang merindukan hatinya bercahaya karena senantiasa dicahayai oleh nuur dari sisi Allah, hendaknya ia berjuang sekuat-kuatnya untuk mengubah diri, mengubah sikap hidup, menjadi orang yang tidak cinta dunia, sehingga jadilah ia ahli zuhud.
"Adakalanya nuur Illahi itu turun kepadamu", tulis Syaikh Ibnu Atho’illah dalam kitabnya, Al Hikam, "tetapi ternyata hatimu penuh dengan keduniaan, sehingga kembalilah nuur itu ke tempatnya semula. Oleh sebab itu, kosongkanlah hatimu dari segala sesuatu selain Allah, niscaya Allah akan memenuhinya dengan ma’rifat dan rahasia-rahasia."
Subhanallaah, sungguh akan merasakan hakikat kelezatan hidup di dunia ini, yang sangat luar biasa, siapapun yang hatinya telah dipenuhi dengan cahaya dari sisi Allah Azza wa Jalla. "Cahaya di atas cahaya. Allah membimbing (seorang hamba) kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki ..." (QS. An Nuur [24] : 35).

Sumber : www.manajemenqolbu.com

Thursday, 25 April 2013

Al Hikam : Terhalangnya Jiwa Karena Syahwat


“Tidak menutup kemungkinan hati terhenti pada cahaya,sebagaimana terhalangnya jiwa karena gelapnya benda-benda makhluk (syahwat)”  Al Hikam

Segala sesuatu yang kita rasakan,yang kita lihat maupun peristiwa yang kita alami merupakan tabir, sehingga engkau menjadi tidak bisa melihat Allah. Atau pemahaman kita salah dalam menempun jalan makrifat.

Kesalahan itu misalnya kita telah beristiqamah menempuh jalan makrifat, namun tujuan kita dibelokkan oleh keinginan-keinginan lain,bukan merapat kepada-Nya. Tujuan yang dibelokkan oleh hawa nafsu berupa keinginan sebagai seorang khowas; orang yang istimewa di bandingkan manusia awam. Penyebabnya karena hatimu terpengaruh oleh cerita-cerita bohong yang dibesar-besarkan.

Sering kita mendengar seseorang menempuh jalan makrifat, kemudian manusia memberi gelar wali. Ia dihormati dan disegani lantaran ilmunya yang tinggi dan istimewa. Setiap umat yang berjumpa dengannya selalu mencium tangan, menunduk-nunduk dan bersikap sangat sopan. Disiarkan kabar bahwa sang wali tersebut mampu shalat diatas air,berjalan diawan,pergi ke Mekkah  dalam sekejap dan bisa bicara dengan arwah para nabi.

Inikah tujuan dalam menempuh makrifat? Jika tujuannya hanya demikian,maka betapa memalukan. Dan kita akan terhalang oleh nuranimu sendiri. Tujuan bermakrifat hanyalah ingin mendapatkan ilmu yang aneh-aneh dan gaib membuat orang awam berdecak kagum.

Jadi, orang menempuh jalan makrifat haruslah mempunyai tujuan agar bisa dekat dengan Allah. Tentu saja harus istiqomah dalam beribadah. Ibadah yang dilakukan juga tidak macam-macam,tidak ditambah dan dikurangi tetapi tetap pada jalur ajaran Rasulullah dalam sunnahny dan perintah Allah dalam Firman-Nya.

Wednesday, 10 April 2013

Mencintai Rasulullah SAW

Jika Allah SWT dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW maka dapat ditarik kesimpulan tentang posisi kemuliaan laki-laki tampan penutup para rasul itu. Lantas wajarlah sebagaimana termaktub dalam surat Al Ahzab ayat 56, kaum muslim diperintahkan untuk senantiasa bershalawat padanya.
 
Tak hanya manusia,pohon dan binatang pun, dikabarkan bershalawat kepada Beliau. Mereka yang sehari-hari tak pernah kita ketahui bercakap dan berkata-kata itu mengakui dan mengetahui kedudukan Nabi Muhammad SAW. Imam Bukhari dan Imam Muslim pernah meriwayatkan sebuah hadist dari Abdullah bin Masud bahwa sebatang pohon pernah menghampiri Rasulullah SAW ketika sesosok jin berkata kepada Nabi SAW.
 
“Siapa yang akan bersaksi untukmu?” ujar jin itu.
 
Nabi lalu menjawab :”Pohon ini. Kemarilah,wahai pohon!” lantas pohon kayu itu datang dengan mencabut akar-akarnya seaya mengeluarkan suara yang berisik.
 
Hajar Aswad yang ada di Ka’bah,sebagaimana diberitakan hadist riwayat Imam Muslim, diakui Nabi adalah satu batu di Mekah yang tak pernah absen menyalaminya. AlBaihaqi juga meriwayatkan hadist dari Jabir bin Abdullah bahwa jika nabi berjalan maka setiap batu dan pohon yang dilewatinya bersujud memberi penghormatan padanya.
 
Dalam sebuah hadist dengan sanad yang kuat dari Abu Hurairah melalui periwayatan Ibnu Hanbal,dikisahkan pula bahwa Nabi pernah masuk dalam satu taman dan beberapa ekor unta yang ada dalam taman itu bersujud pada beliau. Kisah serupa juga terdapat dalam hadist riwayat Tsa’labah bin Malik,saat Nabi memanggil salah satu unta dan unta yang dipanggil Nabi lantas sujud sampai mulutnya menyentuh tanah. Lalu Nabi bersabda : “Tidak ada sesuatu diantara langit dan bumi yang tidak tahu bahwa saya adalah Rasulullah kecuali mereka yang ingkar dari kalangan jin dan manusia.”
 
Hanya jin dan manusia yang ingkar yang tak mengakui kenabian Rasulullah. Dua golongan inilah yang senantiasa memalingkan hatinya dari kenyataaan bahwa Rasulullah adalah utusan Allah yang hak. Kaum kafir Quraisy yang terus-menerus berusaha membunuh Rasulullah adalah termasuk daripada mereka. Mereka juga kerap menghina dan merendahkan Nabi SAW serta melancarkan fitnah keji padanya.
 
Banyak sekali contoh yang diceritakan sejarah bagaimana cara mencintai dan menghormati Rasulullah SAW. Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. menunjukkan cintanya kepada Rasulullah SAW dengan mengambil resiko kehilangan nyawanya saat bersedia menggantikan Rasulullah SAW berbaring di dipannya ketika pemuda-pemuda terpilih quraisy dengan pedang terhunus sudah mengurung rumah Rasulullah SAW untuk membunuhnya. Demikian pula Umar bin Khatab ra. yang selalu berada digaris depan untuk membelanya,juga Abu Bakar yang selalu setia mendampinginya di segala kondisi.
 
Kita dapat mengambil  perbandingan dari itu semuanya, sebagimana dulu Abu Bakar pernah berujar kepada Nabi saat ia melihat seekor biri-biri sujud kepada Beliau, “Wahai Rasulullah,(sesungguhnya) kami lebih wajib bersujud (mentaati) kepadamu dibanding biri-biri itu.”
 
Allahumma shalli ‘ala sayyidina muhammad wa ‘ala ali muhammad.

Wednesday, 27 March 2013

Lima Perusak Hati

Hati adalah pengendali. Jika ia baik, baik pula perbuatannya. Jika ia rusak, rusak pula perbuatannya. Maka menjaga hati dari kerusakan adalah niscaya dan wajib. Tentang perusak hati, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan ada lima perkara, yaitu :

1.    Bergaul dengan banyak kalangan
Pergaulan itu perlu, tapi tidak asal bergaul dan banyak teman. Teman-teman yang buruk lambat laun akan menghitamkan hati, melemahkan dan menghilangkan rasa nurani, akan membuat yang bersangkutan larut dalam memenuhi berbagai keinginan mereka yang negatif.
Rasulullah SAW bersabda :

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَذُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ « عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ

»
Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi SAW bersabda : seseorang itu atas din saudaranya. Maka lihatlah salah seorang diantara kalian, siapa yang ditemani. (HR. Ahmad)

Artinya, kalau kita ingin melihat kualitas din seseorang, maka lihatlah teman-temannya. Jika temannya adalah orang-orang rusak, maka dinnya rusak. Dan jika temannya adalah orang-orang shalih, maka dinnya pun baik.

Allah Ta’ala berfirman :
"Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa." (Az-Zukhruf: 67).

Maka bergaullah dengan para ulama’ dan orang-orang sholih, karena ia ibarat makanan yang kita kunsumsi setiap hari. Sedikit saja kita jauh darinya akan menjadikan hati kita jauh dari Allah Ta’ala dan islam. Sebaliknya, kita harus menjauhi teman para ahli bid’ah dan ahli maksiyat, karena ia adalah racunnya hati yang dapat mematikan hati kita dan sulit mendapatkan petunjuk dari Allah Ta’ala.

2.    Larut dalam angan-angan kosong
Angan-angan kosong adalah lautan tak bertepi. Ia adalah lautan tempat berlayarnya orang-orang bangkrut. Bahkan dikatakan, angan-angan adalah modal orang-orang bangkrut. Ombak angan-angan terus mengombang-ambingkannya,khayalan-khayalan dusta senantiasa mempermainkannya. Laksana anjing yang sedang mempermainkan bangkai.
Adapun orang yang memiliki cita-cita tinggi dan mulia, maka cita-citanya adalah seputar ilmu, iman dan amal shalih yang mendekatkan dirinya kepada Allah. Dan ini adalah cita-cita terpuji. Adapun angan-angan kosong ia adalah tipu daya belaka. Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam memuji orang yang bercita-cita terhadap kebaikan.

3.    Bergantung kepada selain Allah
Ini adalah faktor terbesar perusak hati. Tidak ada sesuatu yang lebih berbahaya dari bertawakkal dan bergantung kepada selain Allah. Jika seseorang bertawakkal kepada selain Allah maka Allah akan menyerahkan urusan orang tersebut kepada sesuatu yang ia bergantung kepadanya. Allah akan menghinakannya dan menjadikan perbuatannya sia-sia. Ia tidak akan mendapatkan sesuatu pun dari Allah, juga tidak dari makhluk yang ia bergantung kepadanya. Allah berfirman, artinya:

"Dan mereka telah mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar sembahan-sembahan itu menjadi pelindung bagi mereka. Sekali-kali tidak, kelak mereka (sembahan-sembahan) itu akan mengingkari penyembahan (pengikut-pengikutnya) terhadapnya, dan mereka (sembahan-sembahan) itu akan menjadi musuh bagi mereka." (Maryam: 81-82)

Maka orang yang paling hina adalah yang bergantung kepada selain Allah. Ia seperti orang yang berteduh dari panas dan hujan di bawah rumah laba-laba. Dan rumah laba-laba adalah rumah yang paling lemah dan rapuh. Lebih dari itu, secara umum, asal dan pangkal syirik adalah dibangun di atas ketergantungan kepada selain Allah. Orang yang melakukannya adalah orang hina dan nista.
Allah berfirman, artinya: "Janganlah kamu adakan tuhan lain selain Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah)." (Al-Isra': 22)

4.    Makanan
Makanan perusak ada dua macam.
Pertama , merusak karena dzat/materinya, dan ia terbagi menjadi dua macam. Yang diharamkan karena hak Allah, seperti bangkai, darah, anjing, binatang buas yang bertaring dan burung yang berkuku tajam. Kedua, yang diharamkan karena hak hamba, seperti barang curian, rampasan dan sesuatu yang diambil tanpa kerelaan pemiliknya, baik karena paksaan, malu atau takut terhina.

Kedua, merusak karena melampaui ukuran dan takarannya. Seperti berlebihan dalam hal yang halal, kekenyangan kelewat batas. Sebab yang demikian itu membuatnya malas mengerjakan ketaatan, sibuk terus-menerus dengan urusan perut untuk memenuhi hawa nafsunya. Jika telah kekenyangan, maka ia merasa berat dan
karenanya ia mudah mengikuti komando setan. Setan masuk ke dalam diri manusia melalui aliran darah. Puasa mempersempit aliran darah dan menyumbat jalannya setan. Sedangkan kekenyangan memperluas aliran darah dan membuat setan betah tinggal berlama-lama. Barangsiapa banyak makan dan minum, niscaya akan banyak tidur dan banyak merugi.

Dalam sebuah hadits masyhur disebutkan: "Tidaklah seorang anak Adam memenuhi bejana yang lebih buruk dari memenuhi perutnya (dengan makanan dan minuman). Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap (makanan) yang bisa menegakkan tulang rusuknya. Jika harus dilakukan, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya dan sepertiga lagi untuk nafasnya." (HR. At-Tirmidzi, Ahmad dan Hakim, dishahihkan oleh Al-Albani).

5.    Kebanyakan tidur
Banyak tidur mematikan hati, memenatkan badan, menghabiskan waktu dan membuat lupa serta malas. Di antara tidur itu ada yang sangat dibenci, ada yang berbahaya dan sama sekali tidak bermanfaat. Sedangkan tidur yang paling bermanfaat adalah tidur saat sangat dibutuhkan.
Segera tidur pada malam hari lebih baik dari tidur ketika sudah larut malam. Tidur pada tengah hari (tidur siang) lebih baik daripada tidur di pagi atau sore hari. Bahkan tidur pada sore dan pagi hari lebih banyak madharatnya daripada manfaatnya.
Di antara tidur yang dibenci adalah tidur antara shalat Shubuh dengan terbitnya matahari. Sebab ia adalah waktu yang sangat strategis. Karena itu, meskipun para ahli ibadah telah melewatkan sepanjang malamnya untuk ibadah, mereka tidak mau tidur pada waktu tersebut hingga matahari terbit. Sebab waktu itu adalah awal dan pintu siang, saat diturunkan dan dibagi-bagikannya rizki, saat diberikannya barakah. Maka masa itu adalah masa yang strategis dan sangat menentukan masa-masa setelahnya. Karenanya, tidur pada waktu itu hendaknya karena benar-benar sangat terpaksa.
Secara umum, saat tidur yang paling tepat dan bermanfaat adalah pada pertengahan pertama dari malam, serta pada seperenam bagian akhir malam, atau sekitar delapan jam. Dan itulah tidur yang baik menurut pada dokter. Jika lebih atau kurang daripadanya maka akan berpengaruh pada kebiasaan baiknya. Termasuk tidur yang tidak bermanfaat adalah tidur pada awal malam hari, setelah tenggelamnya matahari. Dan ia termasuk tidur yang dibenci Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam .
Banyak orang yang berpuasa, akan tetapi melakukan beberapa pelanggaran-pelanggaran diatas. Mereka memperbanyak makan karena seharian berpuasa. Ada yang memperbanyak tidur , padahal bulan puasa adalah bulan ibadah bukan bulan untuk memperbanyak tidur. Ada pula yang banyak melamun, bergaul dengan orang-orang rusak dengan alasan untuk menunggu berbuka puasa. Marilah bulan puasa ini kita manfaatkan untuk beribadah, karena tidak ada yang menjamin bahwa kita masih menemui kembali bulan ramadhan tahun depan.

(Disadur dari Mufsidaatul Qalbi Al-Khamsah, min kalami Ibni Qayyim Al-Jauziyyah)

Tuesday, 26 March 2013

Jalan Kesesatan

Allah menciptakan manusia dengan berbagai nikmat dan aturan yaitu Islam. Dengan aturan itu hidup manusia akan terjamin keselamatannya. Akan tetapi dalam kenyataannya,tidak semua manusia mau mengakui dan menerima aturan itu. Bahkan diantara mereka ada yang siang malam senantiasa mengerahkan segala dana dan dayanya untu menghancurkan aturan itu. Mereka itulah orang-orang kafir yang dijanjikan oleh Allah akan masuk neraka.
Mereka dengan sombongnya mengatakan bahwa Allah telah mati,Allah itu tidak ada,alam semesta ini terjadi secara alamiah belaka dan sejuta kalimat kesombongan yang intinya mereka tidak mau mengakui eksisitensi Allah swt. Padahal kalau mereka ditanya, lidah yang digunakan untuk berkata demikian itu siapa yang menciptakan, mereka pasti tidak akan berani berkata “Akulah yang menciptkan”. Sebab pada dasarnya mengakui adanya Allah. Hanya karena kosombongan dan nafsulah yang menyebabkan mereka berbuat seperti itu.
Allah lah yang menciptakan alam ini,termasuk juga manusia. Dia pasti Maha Tahu samapai dimana kapasitas manusia,sebagaimana agar manusia itu baik dan segala hal yang menyangkut seluk beluk manusia. Tidak mungkin Dia membuat aturan yang akan merusak ciptaan-Nya. Maka kalau manusia ingin hidupnya menjadi baik dan selamat, jelas tiada jalan lain kecuali dia harus kembali kepada aturan yang benar, yaitu islam.
Tapi kenapa manusia masih ada yang ingkar terhadap kebenaran Islam. Padahal kebenarannya sudah begitu jelas?
Ulama besar Abul A’la Al Maududi memberikan gambaran tentang sebab-sebab kekufuran dan tidak biasnya manusia mendapat hidayah dari Allah swt. Sebab tersebut adalah :

1.    Mengikuti Hawa Nafsu Sendiri
“Dan siapakan yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim.” (QS. Al Qashash : 50)

“Terangkanlah padaku tentang orang-orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak,bahkan lebih sesat jalanya(dari binatang ternak).”  (QS. Al Furqon : 43-44)

2.    Mengikuti Budaya Nenek Moyang Tanpa Sikap Selektif
“Dan apabila dikatakan kepada mereka : “ikutilah aoa yang telah diturunkan oelh Allah.” Mereka menjawab :”(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan ) nenek moyang kami.” (Apakah mereka akan mengikuti juga) walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui sesuatu apapun, dan tidak mendapatkan petunjuk?” (QS. Al Baqarah : 70)

3.    Patuh Kepada Selain Allah swt.
Kepatuhan kepada selain Allah ini terjadi apabila manusia mengesampingkan perintah-perintah Allah lalu mentaati perintah-perintah dari manusia dengan berbagai alas an.
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini,niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al An’am : 116)

Tiga hal itulah berhala-berhala besar yang masih bercokol di dalam tubuh umat ini. Kalau umat ini mau bangkit, terlebih dahulu ia harus membumihanguskan ketiga berhala tersebut. Karena kita hanya mendapat petunjuk manakala kita menyerahkan loyalitas kepada Allah swt saja.





Tuesday, 5 March 2013

Mengingat Kematian

“Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkanmu,kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh…” (QS. An Nisaa : 78)
Bagi manusia, mati merupakan suatu kepastian. Semakin besar angka umur seseorang berarti semakin dekat dirinya dengan kematian. Meskipun begitu banyak sekali manusia yang lupa akan mati,bukan berarti pikirannya lupa kalu dia akan mati,tapi lupa akan persiapan menghadapi mati.
Orang yang mati harus punya persiapan,yaitu amal shaleh yang sebanyak-banyaknya utuk bisa berjumpa dengan Allah SWT dalam keadaan yang diridhoi-Nya.
“Barang siapa mengharapkan perjumpaan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. AL Kahfi : 110)
Karena itu setiap kita jangan sampai lupa kepada mati. Didalam islam memang ada perintah untuk selalu ingat mati. Dengan ingat mati,kita akan terangsang untuk memperbanak amal shaleh dan tidak suka menunda-nunda pelaksanaan dari niat untuk melakukan kebaikan.
Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan dalam upaya untuk mengingat mati. Dengan melakukan ini,kita semakin sadar bahwa kehidupan didunia ini memang sementara dan kita akan kembali ke alam kekal yaitu kehidupan akhirat. Hal-hal tersebut adalah :

1.    Menjenguk orang sakit
Dalam Islam,seorang muslim disunahkan untuk menjenguk orang sakit guna menghibur, mendoakan dan menasihati orang yang sakit agar tabah dan sabar dalam menghadapi ujian Allah SWT. Disamping  itu juga dapat mengambil hikmah.
Salah satu hikmah yang diambil adalah betapa pentingnya kesehatan badan itu. Dengan sakit,tak banyak yang bisa dilakukan seseorang. Bahkan hal-hal yang wajib dilakukannya seperti shalat,tidak bisa dilakukan dengan sempurna. Manakala seseorang dapat mengambil hikmah dari menjenguk orang yang sakit,maka Allah SWT akan merahmatinya. Rasul SAW bersabda :
“Menjenguk orang sakit membawa keringanan bagi yang sakit dalam membawa rahmat,maka apabila duduk didekat orang sakit melimpahlah kepadanya rahmat.” (HR. Ahmad)

2.    Ta’ziyah pada yang mati
Cara lain untuk mengingat mati adalah berta’ziyah kepada orang yang mati. Dalam katian ta’ziyah ini,seorang muslim dituntut untuk mendoakan orang yang mati,menggembirakan orang yang ditinggal mati dan mengurus orang yang mati seperti memandikan, mengkafani, menshalatkan dan menguburkannya. Semakin banyak orang yang menshalatkan dan menguburkan tentu semakin baik.
Rasulullah SAW bersabda ; “Cukuplah mati sebagai pelajaran dan keyakinan keimanan sebagai kekayaan.” (HR. Thabrani)

3.    Ziarah Kubur
Ziarah kubur sangat dianjurkan dalam Islam karena dengan melaksanakan ini seseorang menjadi sadar bahwa cepat atau lambat diapun akan seperti orang yang ada di dalam kubur,yang hanya ditemani oleh amalnya didunia.

4.    Memantapkan iman pada hari akhirat
Agar seseorang selalu ingat mati maka keimanannya kepada hari akhirat yang merupakan masa kembalinya manusia sesudah hidup didunia harus diperkokoh terus. Seorang muslim harus benar-benar yakin akan adanya hari akhirat. Sedangkan orang kafir hanya meyakini kehidupan hanya kehidupan didunia ini saja.
“Dan mereka berkata : “kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia ini saja,kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain (waktu),dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu,mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (QS. Al Jatsiyah : 24)
Dengan mantapnya keimanan kepada hari akhirat,maka seorang muslim akan selalu berperilaku yang benar dan baik,bersungguh-sungguh dalam beramal shaleh,tidak meniru-niru gaya hidup yang tidak islami,dan sebagainya.

5.    Menghayati dalil kehidupan akhirat
Seorang muslim juga akan selalu ingat mati dengan pembuktian beramal shaleh yang banyak manakala dia suka mengkaji,merenungi dan menghayati dalil-dalil tentang kehidupan akhirat,yaitu surga dan neraka.

Dengan demikian penting sekali arti mengingat kematian dalam arah hidup seorang muslim,sehingga dia akan berhasil mencapai kehidupan di dunia dan akhirat yang hasanah (baik). Semoga kita dapat menyongsong kematian dalam keadaan yang diridhoi-Nya. Amin

Monday, 4 March 2013

Larangan-larangan Rasulullah SAW

Dalam kehidupan sehari-hari,disadari atau tidak,sering kita melakukan perbuatan yang sebenarnya dilarang oleh Rasulullah SAW. Hal ini dapat terjadi karena kejahilan (ketidak mengertian) kita terhadap sunnah Rasulullah SAW.
Berikut ini beberapa hal yang dilarang Rasulullah SAW untuk kita lakukan. Larangan-larangan tersebut ada yang sampai pada tingkatan haran,ada yang sekedar makruh (dibenci oleh Allah SWT). Tapi jelas,meninggalkan laranga-larangan berikut ini adalah lebih utama.

1.    Melawak (memancing orang lain agar tertawa) dengan kebohongan
“Celakalah bagi orang yang berkata dan berbohong untuk menjadikan orang lain tertawa karenanya. Celakalah ia,celakalah ia.” (HR. Ahmad,Tirmidzi dan Abu Dawud)
2.    Tertawa karena orang lain kentut
“Rasulullah SAW melarang tertawa (menertawai orang) karena kentut.” (HR. Ahmad,Bukhari dan Muslim)
3.    Terlalu banyak tertawa
“Jangan banyak tertawa,karena sesungguhnya banyak tertawa itu mematikan hati.” (Shahif Al Jami’ Ash Shogir)
4.    Bernadzar
“Jangan kalian bernadzar,karena nadzar itu sedikit pun tidak dapat mempengaruhi takdir. Dan hanyasanya nadzar itu dikeluarkan dari orang yang pelit.” (HR. Muslim dan Tirmidzi)
5.    Memaksakan diri menjamu tamu
“Janganlah salah seorang diantara kalian memaksakan diri untuk tamunya dilura kemampuannya.” (HR. Ad Dailami)
6.    Mengambil barang orang lain tanpa izin,baik secara bercanda atau serius
“Janganlah salah seorang diantara kalian mengambil barang milik temannya (tanpa ijin) baik secara main-main atau serius. Dan jika ia mengambil tongkat temannya hendaklah segera dikembalikan kepadanya.” (HR. Ahmad,Abu Dawud dan Tirmidzi)
7.    Memuji orang lain secara berlebihan
“Celaka kamu,kamu telah memenggal leher temenmu,barang siapa diantara kamu mau tidak mau harus memuji saudaranya  hendaklah ia mengatakan : “Aku mengenal si Fullah dan Allah-lah yang menilainya,dan aku tidak memuji seseorang melebihi pengetahuan Allah. Saya menilai si fulan begini…begini…” Jika ita tahu yang baik darinya.” (HR. Ahmad,Bukhari dan Muslim)
8.    Melakukan shalat dalam kondisi makanan sudah tersedia atau sambil menahan buang air kecil atau besar
“Tidak sempurna shalat dalam kondisi mekanan sudah tersedia,dan tidak sempurna juga shalat orang yang menahan buang air kecil atau besar.’ (HR. Muslim dan Abu Dawud)
9.    Mendatangi masjid dengan tergesa-gesa untuk mengejar shalat agar tidak ketinggalan
“Jika kalian mendatangi shalat,hendaklah kalian datang dalam keadaan tenang,dan janganlah kalian mendatanginya dengan tergesa-gesa,maka apa yang kalian dapatkan shalatlah,dan apa yang ketinggalan sempurnakanlah.” (HR. Ahmad,Bukhari dan Muslim)
10.    Membunuh binatang dengan api
“Sesungguhnya tidak boleh menyiksa dengan api kecuali Allah tuhan api.” (HR. Abu Dawud)
11.    Menunda pembayaran hak orang lain
Dari Abu Hurairah ra. : “sesungguhnya Rasulullah SAW  bersabda : “Orang yang mampu membayar hak orang lain namun menunda pembayarannya merupakan kedzaliman. Dan apabila terdapat hutang yang dialihkan kepada salah seorang diantara kalian dalam keadaan mampu maka terimalah pengalihan itu.” (Muttafaqun Alaihi)
12.    Duduk diantara dua orang kecuali dengan ijin keduanya
“Rasulullah SAW melarang seseorang duduk diantara dua orang kecuali dengan seijin keduanya.” (Hadist Hasan menurut Al Albani)
13.    Membiarkan api menyala,sementara kita tidur
Dari Ibnu Umar ra. : Dari Nabi SAW, ia bersabda :”Janganlah kalian meninggalkan api di rumah-rumah kalian ketika kalian tidur.” (Muttafaqun alaihi)
Dan suatu saat ketika Rasulullah SAW mendengar berita kebakaran rumah salah seorang sahabatnya,beliau bersabda : “Sesungguhnya api itu musuh kalian, maka apabila kalian tidur,padamkanlah.”(Muttafaqun alaihi)
14.    Mencabut uban
“Janganlah kalian mencabut uban,karena sesungguhnya uban itu merupakan cahaya bagi seorang muslim pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
15.    Masuk masjid dalam keadaan membawa bau yang busuk (tidak sedap)
“Barang siapa yang makan bawang merah,bawang putih dan kurrots (sayur yang mirip bawang merah) maka janganlah mendekati masjid kami,karena sesungguhnya malaikat terganggu,sebagaimana manusia terganggu darinya.” (HR. Muslim)

Demikian diantara larangan-larangan Nabi SAW. Memang,larangan Allah dan Rasul-Nya kadang terasa indah dan nikmat. Namun yakinlah,dibalik keindahan dan kenikmatan larangan itu tersimpan kerugian dan kecelakaan bagi yang melakukannya. Sebaliknya perintah Allah dan Rasul-Nya kadang terasa pahit dan pedih. Namun yakinlah dibalik kepahitan dan kepedihan itu tersimpan keuntungan dan kebahagiaan bagi yang melakukannya.
Mari kita tinggalkan larangan Allah dan Rasul-Nya sejauh-jauhnya,agar kehidupan kita terbimbing hidayah-Nya. Semoga kita mampu melaksanakannya.

Thursday, 21 February 2013

Mempersiapkan Keluarga Sakinah Mawaddah Warahmah

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-NYa ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri (suami-suami) dari jenismu sendiri,supaya kamu mendapatkan kehidupan yang tentram (sakinah),dan dijadikan-Nya diantara kamu rasa kasih saying. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar Rum : 30)

Dalam ayat diatas Allah SWT menjelaskan bahwa yang berperan membuat keluarga menjadi sakinah ada dua faktor, yaitu mawaddah dan rahman. Dalam bahasa Indonesia padanan kedua kata itu adalah kasih saying. Mawaddah lahir dari sesuatu yang bersifat jasmani ( kecantikan,kegagahan) sedangkan rahmah lahir dari sesuatu yang bersifat rohani (hubungan batin). Dalam pergaulan suami istri,kedua faktor itulah yang berperan.
Pada pasangan muda dimana yang laki-laki masih gagah dan wanita masih cantik,faktor mawaddahlah yang dominan. Sedangkan pada pasangan tua tatkala laki-laki tidak gagah lagi dan wanita tidak cantik lagi, yang lebih dominan adalah faktor rahmah. Kita tidak boleh mengabaikan salah satu dari dua faktor tersebut. Yang ideal adalah,kalau kedua faktor tersebut berjalan bersama-sama.
Karena membina keluarga sakinah tidaklah hanya cukup dengan modal cinta dalam pengertian mawaddah (keterikatan karena fisik) semata, maka ikutilah bimbingan yang diberikan Rasulullah SAW tentang kriteria yang dipakai laki-laki dalam menentukan calon istri, atau sebaliknya bagi calon wanita untuk menerima atau menolak khitbah seorang pria.
Islam sebagai dienul fitrah telah mensyari’atkan pernikahan agar manusia dalam hidup ini terjaga keselamatan akhlak dan terpenuhi panggilan fitrah serta naluri mereka.
Karena Islam telah mensyari’atkan pernikahan,maka tidak boleh tidak,bahkan haram bagi seorang muslim menghindari pernikahan,sekalipun dengan niat untuk beribadah dan taqarrub kepada Allah SWT,terutama jika dia telah memiliki syarat-syarat pernikahan.

“Ketika Rasulullah SAW mengetahui Ukkaf bin Wada’ah Al Hilaly tidak mau kawin, beliau bertanya ,“ Apakah engkau mempunyai istri wahai Ukkaf?” Ukkaf menjawab, “Tidak.” Beliau bertanya lagi, “Tidak pula budak perempuan?” Ukkaf menjawab “Tidak”. “Padahal kamu orang yang sehat dan kaya,” tanya Rasulullah SAW. Ukkaf menjawab : “Benar dan Alhamdulillah.” Beliau bersabda :”Berarti kamu termasuk teman-teman syaitan. Kamu memilih mengikuti pendeta Nashara sehingga masuk golongan mereka ataukan kamu menjadi golongan kami..”

Islam menolak sistem kependetaan,karena hal itu tidak cocok dengan fitrah manusia sebagai makhluk biologis,disamping bertentangan dengan sunnatullah yang berlaku atas makhluk-Nya.
Islam memandang hidup membujang menandakan lemah iman,karena kehidupan semacam itu lebih sukar untuk bisa stabil. Ia belum melengkapi separuh dari agamanya,sebagaimana sabda Rasulullah SAW berikut ini :

“Barang siapa yang diberi rizki seorang wanita shalihah oleh Allah SWT,maka ia telah menolong atas separuh agamanya,maka hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam separuh yang lain.” (Hadist Syarif)

Meskipun orang yang hidup membujang itu mampu istiqomah,aktif melakukan shalat dan puasa,namum sebagai manusia ia tetep mengalami gejolak kejiwaan yang akan sering menggelitik kebersihan hati kala beribadah kepada Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda : “Dua rekaat irabg yang sudah nikah lebih baik daripada shalat tujuh puluh rekaat orang yang tidak/belum menikah.” (Hadist syarif)

Persiapan Menyongsong Pernikahan

Beberapa faktor yang perlu dipersiapkan oleh seorang muslim dan muslimah dalam menyongsong pernikahan, diantaranya :

1.    Persiapan Ruhiyyah (Keimanan)
Persiapan ini bersifat pribadi,menyangkut penggemblengan aqidah. Pernikahan ibarat sebuah sampan yang dipakai mengarungi samudera kehidupan yang luas dan penuh tantangan. Tegar tidaknya sepasang suami istri dalam menghadapi cobaan rumah tangganya,sangat tergantung dari kwalitas keimanan keduanya.
Salah satu faktor penting dalam hal ini adalah aspek keikhlasan menjalani hidup berkeluarga. Ikhlas adalah kunci utama ibadah. Karena pernikahan dalam kehidupan seorang muslim dan muslimah adalah termasuk ibadah,maka ia pun menuntut penyertaan niat ikhlas tersebut. Pernikahan yang dilandasi keikhlasan akan mampu melahirkan generasi shalih dan shalihah,disamping akan berfungsi sebagai al Manar (menara/mercusuar) bagi penyebaran nilai-nilai Islam di masyarakat.

2.    Persiapan  Fikriyyah (Pemikiran)
Seorang muslim sebelum melangkah ke jenjang pernikahan harus menguasai konsep dan hukum-hukum serta tata cara pernikahan Islami,sesuai dengan kapasitasya. Disamping itu penguasaan terhadap hak dan kewajiban suami isteri mutlak diperlukan. Bahkan sebagian ulama berpendapat,makruh, orang yang yang menikah sementara ia belum menguasai fiqh manakahat (seluk beluk pernikahan).

3.    Persiapan Maaliyah (Harta)
Harta khususnya dalam kehidupan rumah tangga memegang porsi penting dalam rangka mencapai kebahagiaan,meskipun ia bukan satu-satunya penyebab kebahagiaan. Islam mensyaratkan agar seorang muslim berpenghasilan untuk mencukupi kebutuhannya. Maka seorang calon suami khususnya, wajib menyiapkan hal ini. Karena tanggung jawab nafkah,ada dipundaknya.
Akan tetapi, jangan sampai karena alas an belum adanya harta yang banyak menyebabkan seseorang menunda-nunda pernikahannya,yang justru akan merugikan kehidupannya sendiri. Yakinlah selama kita berusaha yang benar dan bertakwa kepada Allah, rizki akan diberikan kepada kita.
“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, akan diberi jalan keluar (dari permasalahannya) dan diberi rizki dari arah yang tidak di duga-duga.” (QS. At Thalaq : 2-3)

4.    Persiapan Jasadiyyah (Fisik)
Aspek fisik punya andil besar dalam pencapaian kebahagiaan keluarga. Suami,isteri dan anak-anak yang sehat sangat dihargai dalam Islam. Persoalan yang harus dihadapi dalam rumah tangga kadangkala banyak menyita energy. Akibatnya,seorang yang terbiasa santai dan selalu dilayani semasa bujangnya,sering kurang siap menghadapi kesibukan-kesibukan setelah berumah tangga. Hal ini,disadari atau tidak akan menjadi virus yang akan membahayakan keharmonisan kehidupan rumah tangga. Untuk itu selain menjaga kesehatan,penguasaaan ketrampilan yang bersifat jasmani perlu dikuasai oleh calon suami isteri.

Semoga artikel ini mampu mengubah para bujang untuk segera menuju gerbang pernikahan,sehingga segera mempercepat terbentuknya rumah tangga Islam guna menyiapkan generasi shalih dan shalihah.

Wednesday, 20 February 2013

Meraih Sehat Secara Islami

Sehat tidak selalu identik dengan gemuk dan tidak memiliki penyakit. Bahkan kelebihan berat badan jutru menjadi penyebab munculnya penyakit, mulai dari diabetes hingga penyakit jantung dan stroke.
Penelitian yang dilakukan oleh para ahli kedokteran menyimpulan bahwa ada empat faktor yang menentukan kesehatan seseorang. Ke empat faktor tersebut adalah :
  1. Gaya hidup dan perilaku kesehatan
  2. Keturunan
  3. Kondisi lingkungan
  4. Mutu pelayanan yang tersedia
Islam sebagai agama yang paling komplit dan sempurna jika dibanding agama-agama lain, sangat besar perhatiannya terhadap kesehatan.  Kesehatan adalah rahmat Allah swt yang sangat besar nilainya dan karenanya menjadi kewajiban setiap muslim untuk menjaganya. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan agar kita memiliki kesehatan prima.

Berperilaku Hidup Bersih
Kebersihan merupakan tanda dari keimanan seseorang dan Allah swt sangat mencintai orang-orang yang menjaga kebersihan.
"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang mensucikan diri." (QS. Al Baqarah : 222)
"Kebersihan itu sebagian dari iman" (HR. Muslim)
"Islam itu bersih, maka berperilakulah bersih, sesungguhnya orang tidak akan masuk syurga kecuali dalam keadaan bersih." (HR. Ad Dailami)

Makan dan Minum Yang Halal dan Baik
Ajaran islam mengharuskan mengkonsumsi makanan dan minuman yang jelas kehalalannya dan terhindar dari keragu-raguan tentang hukumnya. "Tinggalkanlah apa-apa yang meragukan kalian kepada apa-apa yang tidak meragukan kalian." demikian sabda Nabi saw.
"Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik bagimu dari apa yang ada dibumi..." (QS. Al Baqarah : 168)
"Makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan sesungguhnya Allah tidak suka dengan orang yang berlebih-lebihan." (QS. Al A'raf : 31)

Istirahat Secukupnya
Salah satu istirahat yang baik adalah tidur, sebagaimana firman Allah swt : 
"Dan Kami telah menjadikan tidur kamu untuk istirahat." (QS. An Naba' : 9)
"Dan Dia-lah yang telah menjadikan untukmu malam sebagai pakaian dan tidur sebagai istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk mencari nafkah." (QS. Al Furqan : 47)

Bekerja Sebatas Kemampuan
Islam melarang kita memaksakan diri mengerjakan sesuatu diluar kesanggupan kita. "Allah tidak akan membebankan seseorang melainkan sebatas kemampuannya." (QS. Al Baqarah : 286)

Menjaga Jarak  Dengan Penderita Penyakti Menular
"Orang yang sakit menular jangan dibawa mendekata orang sehat." (HR. Bukhari & Muslim)  

Segera Berobat Ketika Sakit
Semua penyakit pasti ada obatnya kecuali tua/pikun. Dalam suatu hadist disebutkan bahwa Nabi saw bersabda : "Berobatlah kamu sekalian (bila Sakit), karena sesungguhnya Allah swt tidak mendatangkan suatu penyakit kecuali mendatangkan pula obatnya, kecuali satu penyakit yaitu pikun." (HR. At Turmudzi)

Meningkatkan Stamina Tubuh
Hal ini dilakukan dengan meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat bagi tubuh kita. Sabda Nabi saw : "Sebagian dari tanda sempurnanya islam seseorang adalah meniggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat baginya." 

Membiasakan Puasa 
Manfaat puasa dari segi kesehatan, antara lain ; 
  • memperbaiki sel-sel alat penceraan 
  • akan mengurangi lemak sehingga terhindar dari penyakit darah tinggi dan stroke
  • dengan berpuasa tenaga yang dipakai akan efektif dan efisien
"Dan berpuasa itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui." (QS. Al Baqarah : 184)

Berolah Raga Secara Rutin
Rasulullah telah menganjurkan semua muslim berolah raga secara rutin, sebagai upaya untuk menjaga kesehatan. "Ajari anakmu (dengan olah raga) berenang, naik kuda dan memanah." (HR. Ad Dailami)

Sikap hidup yang Ikhlas, Qona'ah dan Sabar
Inilah kunci kesehatan yanb berasal dari dalam jiwa kita. Firman Allah dalam QS. Ar Ra'du ayat 28 : "Yaitu orang-orang yang beriman dan hati meraka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya mengingat Allah hati menjadi tenang."

Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang dikarunia kesehatan lahir dan betin. 
Ammin ya rabbal alamin


Tugas Utama Wanita

"Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah”. Asma’ binti Abu Bakar ra. pernah datang   menghadap Ra...