Islam adalah agama yang indah, setiap aspek kehidupan telah diatur ataupun sudah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Salah satu yang akan kita bahas di sini adalah sunah-sunah Rasulullah SAW setelah bangun tidur. Berikut ini sunah-sunah Rasulullah SAW setelah bangun tidur ;
1. Membasuh wajah dengan tangan.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda , “Rasulullah kemudian bangun tidur, lalu duduk sambil mengusap (bekas) tidur di wajah beliau dengan tangan beliau”. (HR. Muslim)
2. Membaca doa bangun tidur.
Alhamdulillaah illadtii ahyanaa ba’da maa a maa tanaa wa i layhi nnusyuw ru.
Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan aku setelah mematikan aku dan kepada-Nya-lah aku kembali. (HR. Bukhari)
3. Memakai siwak.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam ketika bangun tidur menggosok mulutnya dengan siwak”. (Muttafaq’alaih)
4. Menghisap air ke dalam hidung.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Tatkala salah seorang di antara kalian bangun tidur, hendaklanya dia menghisap air ke hidung sebanyak tiga kali, sesungguhnya setan menginap di lubang hidungnya.” (Muttafaq ‘alaih)
5. Membasuh kedua belah tangan tiga kali.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Ketika salah seorang di antara kalian bangun dari tidurnya hendaknya dia tidak mencelupkan tangannya ke dalam tempat (air) sampai dia membasuh tangannya itu sebanyak tiga kali.” (Muttafaq ‘alaih)
Itulah sunah-sunah setelah bangun tidur yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, semoga dengan kita menjalankan sunah-sunah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, kita bisa mendapatkan syafaatnya di yaumul akhir nanti. Amin
Tuesday, 15 April 2014
Keutamaan Menuntut Ilmu
Menuntut ilmu merupakah sebuah aktivitas yang mutlak diperlukan setiap manusia, terlebih manusia mukmin. Apabila kita perhatikan isi Al Qur'an dan Al Hadist, maka akan kita dapati banyak perintah yang mewajibkan setiap muslim laki-laki maupun perempuan untuk menuntut ilmu, antara lain :
"Menuntut ilmu adalah fardlu bagi tiap-tiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan." (HR. Ibnu Abdu Bari)
"Barang siapa menginginkan kebahagiaan di dunia, wajiblah ia memiliki ilmu, dan barang siapa yang ingin (selamat dan bahagia) di akhirat, wajiblah ia mengetahui ilmunya pula, dan barangsiapa yang menginginkan kedua-duanya, wajiblah ia memiliki ilmu tentang keduanya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Bagi seorang muslim, menuntut ilmu merupakan ibadah yang sangat afdhal. Disamping akan mendapatkan penghargaan disisi manusia, disisi Allah pun para ahlul 'ilmi memiliki kedudukan yang sangat mulia. Diantara keutamaan menuntut ilmu antara lain ;
1. Mendapatkan pahala yang besar di sisi Allah SWT
"Sungguh sekiranya engkau melangkahkan kaki di waktu pagi (maupun petang) kemudian mempelajari satu ayat dari kitab Allah, maka pahalanya lebih baik daripada ibadah satu tahun." (Hadist Syarif)
2. Diangkat derajatnya disisi Allah dan disisi manusia
"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu pengetahuan diantara kamu beberapa derajat." (QS. Al Mujadalah : 11)
3. Dapat membentengi umat dai kesesatan para penyesat
"Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dari dada-dada manusia, melainkan Ia mencabutnya dengan cara mematikan para ulama. Dan dikala tidak ada lagi seorang alim pun yang hidup, manusia akan menjadikan orang-orang bodoh (dari sisi agama) sebagai pemimpin. kemudian mereka ditanya (dimintai fatwa). Mereka (orang yang jahil tsb) berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka menjadi sesat dan menyesatkan." (HR. Bukhari)
4. Merupakah salah satu jalan utama mencapai surga
"Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah memudahkan baginya dengan ilmu itu jalan untuk masuk surga." (HR. Muslim)
5. Sebaik-baik aktivitas
"Sebaik-baik dari kalian adalah (orang) yang mempelajari Al Qur'an dan mengajarkannya." (HR. Bukhari)
"Menuntut ilmu adalah fardlu bagi tiap-tiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan." (HR. Ibnu Abdu Bari)
"Barang siapa menginginkan kebahagiaan di dunia, wajiblah ia memiliki ilmu, dan barang siapa yang ingin (selamat dan bahagia) di akhirat, wajiblah ia mengetahui ilmunya pula, dan barangsiapa yang menginginkan kedua-duanya, wajiblah ia memiliki ilmu tentang keduanya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Bagi seorang muslim, menuntut ilmu merupakan ibadah yang sangat afdhal. Disamping akan mendapatkan penghargaan disisi manusia, disisi Allah pun para ahlul 'ilmi memiliki kedudukan yang sangat mulia. Diantara keutamaan menuntut ilmu antara lain ;
1. Mendapatkan pahala yang besar di sisi Allah SWT
"Sungguh sekiranya engkau melangkahkan kaki di waktu pagi (maupun petang) kemudian mempelajari satu ayat dari kitab Allah, maka pahalanya lebih baik daripada ibadah satu tahun." (Hadist Syarif)
2. Diangkat derajatnya disisi Allah dan disisi manusia
"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu pengetahuan diantara kamu beberapa derajat." (QS. Al Mujadalah : 11)
3. Dapat membentengi umat dai kesesatan para penyesat
"Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dari dada-dada manusia, melainkan Ia mencabutnya dengan cara mematikan para ulama. Dan dikala tidak ada lagi seorang alim pun yang hidup, manusia akan menjadikan orang-orang bodoh (dari sisi agama) sebagai pemimpin. kemudian mereka ditanya (dimintai fatwa). Mereka (orang yang jahil tsb) berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka menjadi sesat dan menyesatkan." (HR. Bukhari)
4. Merupakah salah satu jalan utama mencapai surga
"Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah memudahkan baginya dengan ilmu itu jalan untuk masuk surga." (HR. Muslim)
5. Sebaik-baik aktivitas
"Sebaik-baik dari kalian adalah (orang) yang mempelajari Al Qur'an dan mengajarkannya." (HR. Bukhari)
Tuesday, 30 April 2013
Bila Hati Bercahaya
Adakah diantara kita yang merasa mencapai sukses hidup karena telah berhasil meraih segalanya : harta, gelar, pangkat, jabatan, dan kedudukan yang telah menggenggam seluruh isi dunia ini? Marilah kita kaji ulang, seberapa besar sebenarnya nilai dari apa-apa yang telah kita raih selama ini.
Di sebuah harian pernah diberitakan tentang penemuan baru berupa teropong yang diberi nama telescope Hubble. Dengan teropong ini berhasil ditemukan sebanyak lima milyar gugusan galaksi. Padahal yang telah kita ketahui selama ini adalah suatu gugusan bernama galaksi bimasakti, yang di dalamnya terdapat planet-planet yang membuat takjub siapa pun yang mencoba bersungguh-sungguh mempelajarinya. Matahari saja merupakan salah satu planet yang sangat kecil, yang berada dalam gugusan galaksi di dalam tata surya kita. Nah, apalagi planet bumi ini sendiri yang besarnya hanya satu noktah. Sungguh tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan lima milyar gugusan galaksi tersebut. Sungguh alangkah dahsyatnya.
Sayangnya, seringkali orang yang merasa telah berhasil meraih segala apapun yang dirindukannya di bumi ini – dan dengan demikian merasa telah sukses – suka tergelincir hanya mempergauli dunianya saja. Akibatnya, keberadaannya membuat ia bangga dan pongah, tetapi ketiadaannya serta merta membuat lahir batinnya sengsara dan tersiksa. Manakala berhasil mencapai apa yang diinginkannya, ia merasa semua itu hasil usaha dan kerja kerasnya semata, sedangkan ketika gagal mendapatkannya, ia pun serta merta merasa diri sial. Bahkan tidak jarang kesialannya itu ditimpakan atau dicarikan kambing hitamnya pada orang lain.
Orang semacam ini tentu telah lupa bahwa apapun yang diinginkannya dan diusahakan oleh manusia sangat tergantung pada izin Allah Azza wa Jalla. Mati-matian ia berjuang mengejar apa-apa yang dinginkannya, pasti tidak akan dapat dicapai tanpa izin-Nya. Laa haula walaa quwwata illaabillaah! Begitulah kalau orang hanya bergaul, dengan dunia yang ternyata tidak ada apa-apanya ini.
Padahal, seharusnya kita bergaul hanya dengan Allah Azza wa Jalla, Zat yang Maha Menguasai jagat raya, sehingga hati kita tidak akan pernah galau oleh dunia yang kecil mungil ini. Laa khaufun alaihim walaa hum yahjanuun! Samasekali tidak ada kecemasan dalam menghadapi urusan apapun di dunia ini. Semua ini tidak lain karena hatinya selalu sibuk dengan Dia, Zat Pemilik Alam Semesta yang begitu hebat dan dahsyat.
Sikap inilah sesungguhnya yang harus senantiasa kita latih dalam mempergauli kehidupan di dunia ini. Tubuh lekat dengan dunia, tetapi jangan biarkan hati turut lekat dengannya. Ada dan tiadanya segala perkara dunia ini di sisi kita jangan sekali-kali membuat hati goyah karena toh sama pahalanya di sisi Allah. Sekali hati ini lekat dengan dunia, maka adanya akan membuat bangga, sedangkan tiadanya akan membuat kita terluka. Ini berarti kita akan sengsara karenanya, karena ada dan tiada itu akan terus menerus terjadi.
Betapa tidak! Tabiat dunia itu senantisa dipergilirkan. Datang, tertahan, diambil. Mudah, susah. Sehat, sakit. Dipuji, dicaci. Dihormati, direndahkan. Semuanya terjadi silih berganti. Nah, kalau hati kita hanya akrab dengan kejadian-kejadian seperti itu tanpa krab dengan Zat pemilik kejadiannya, maka letihlah hidup kita.
Lain halnya kalau hati kita selalu bersama Allah. Perubahan apa saja dalam episode kehidupan dunia tidak akan ada satu pun yang merugikan kita. Artinya, memang kita harus terus menerus meningkatkan mutu pengenalan kita kepada Allah Azza wa Jalla.
Di antara yang penting yang kita perhatikan sekiranya ingin dicintai Allah adalah bahwa kita harus zuhud terhadap dunia ini. Rasulullah SAW pernah bersabda, "Barangsiapa yang zuhud terhadap dunia, niscaya Allah mencintainya, dan barangsiapa yang zuhud terhadap apa yang ada di tangan manusia, niscaya manusia mencintainya."
Zuhud terhadap dunia bukan berarti tidak mempunyai hal-hal yang bersifat duniawi, melainkan kita lebih yakin dengan apa yang ada di sisi Allah daripada apa yang ada di tangan kita. Bagi orang-orang yang zuhud terhadap dunia, sebanyak apapun yang dimiliki sama sekali tidak akan membuat hati merasa tentram karena ketentraman itu hanyalah apa-apa yang ada di sisi Allah.
Rasulullah SAW bersabda, "Melakukan zuhud dalam kehidupan di dunia bukanlah dengan mengharamkan yang halal dan bukan pula memboroskan kekayaan. Zuhud terhadap kehidupan dunia itu ialah tidak menganggap apa yang ada pada dirimu lebih pasti daripada apa yang ada pada Allah." (HR. Ahmad, Mauqufan)
Andaikata kita merasa lebih tentram dengan sejumlah tabungan di bank, maka berarti kita belum zuhud. Seberapa besar pun uang tabungan kita, seharusnya kita lebih merasa tentram dengan jaminan Allah. Ini dikarenakan apapun yang kita miliki belum tentu menjadi rizki kita kalau tidak ada izin Allah.
Sekiranya kita memiliki orang tua atau sahabat yang memiliki kedudukan tertentu, hendaknya kita tidak sampai merasa tentram dengan jaminan mereka atau siapa pun. Karena, semua itu tidak akan datang kepada kita, kecuali dengan izin Allah.
Orang yang zuhud terhadap dunia melihat apapun yang dimilikinya tidak menjadi jaminan. Ia lebih suka dengan jaminan Allah karena walaupun tidak tampak dan tidak tertulis, tetapi Dia Mahatahu akan segala kebutuhan kita.jangan ukur kemuliaan seseorang dengan adanya dunia di genggamannya. Sebaliknya jangan pula meremehkan seseorang karena ia tidak memiliki apa-apa. Kalau kita tidak menghormati seseorang karena ia tidak memiliki apa-apa. Kalau kita menghormati seseorang karena kedudukan dan kekayaannya, kalau meremehkan seseorang karena ia papa dan jelata, maka ini berarti kita sudah mulai cinta dunia. Akibatnya akan susah hati ini bercahaya disisi Allah.
Mengapa demikian? Karena, hati kita akan dihinggapi sifat sombong dan takabur dengan selalu mudah membeda-bedakan teman atau seseorang yang datang kepada kita. Padahal siapa tahu Allah mendatangkan seseorang yang sederhana itu sebagai isyarat bahwa Dia akan menurunkan pertolongan-Nya kepada kita.
Hendaknya dari sekarang mulai diubah sistem kalkulasi kita atas keuntungan-keuntungan. Ketika hendak membeli suatu barang dan kita tahu harga barang tersebut di supermarket lebih murah ketimbang membelinya pada seorang ibu tua yang berjualan dengan bakul sederhananya, sehingga kita mersa perlu untuk menawarnya dengan harga serendah mungkin, maka mulailah merasa beruntung jikalau kita menguntungkan ibu tua berimbang kita mendapatkan untung darinya. Artinya, pilihan membeli tentu akan lebih baik jatuh padanya dan dengan harga yang ditawarkannya daripada membelinya ke supermarket. Walhasil, keuntungan bagi kita justru ketika kita bisa memberikan sesuatu kepada orang lain.
Lain halnya dengan keuntungan diuniawi. Keuntungan semacam ini baru terasa ketika mendapatkan sesuatu dari orang lain. Sedangkan arti keuntungan bagi kita adalah ketika bisa memberi lebih daripada yang diberikan oleh orang lain. Jelas, akan sangat lain nilai kepuasan batinnya juga.
Bagi orang-orang yang cinta dunia, tampak sekali bahwa keuntungan bagi dirinya adalah ketika ia dihormati, disegani, dipuji, dan dimuliakan. Akan tetapi, bagi orang-orang yang sangat merindukan kedudukan di sisi Allah, justru kelezatan menikmati keuntungan itu ketika berhasil dengan ikhlas menghargai, memuliakan, dan menolong orang lain. Cukup ini saja! Perkara berterima kasih atau tidak, itu samasekali bukan urusan kita. Dapatnya kita menghargai, memuliakan, dan menolong orang lain pun sudah merupakan keberuntungan yang sangat luar biasa.
Sungguh sangat lain bagi ahli dunia, yang segalanya serba kalkulasi, balas membalas, serta ada imbalan atau tidak ada imbalan. Karenanya, tidak usah heran kalau para ahli dunia itu akan banyak letih karena hari-harinya selalu penuh dengan tuntutan dan penghargaan, pujian, dan lain sebagainya, dari orang lain. Terkadang untuk mendapatkan semua itu ia merekayasa perkataan, penampilan, dan banyak hal demi untuk meraih penghargaan.
Bagi ahli zuhud tidaklah demikian. Yang penting kita buat tatanan kehidupan ini seproporsional mungkin, dengan menghargai, memuliakan, dan membantu orang lain tanpa mengharapkan imbalan apapun. Inilah keuntungan-keuntungan bagi ahli-ahli zuhud. Lebih merasa aman dan menyukai apa-apa yang terbaik di sisi Allah daripada apa yang didapatkan dari selain Dia.
Walhasil, siapapun yang merindukan hatinya bercahaya karena senantiasa dicahayai oleh nuur dari sisi Allah, hendaknya ia berjuang sekuat-kuatnya untuk mengubah diri, mengubah sikap hidup, menjadi orang yang tidak cinta dunia, sehingga jadilah ia ahli zuhud.
"Adakalanya nuur Illahi itu turun kepadamu", tulis Syaikh Ibnu Atho’illah dalam kitabnya, Al Hikam, "tetapi ternyata hatimu penuh dengan keduniaan, sehingga kembalilah nuur itu ke tempatnya semula. Oleh sebab itu, kosongkanlah hatimu dari segala sesuatu selain Allah, niscaya Allah akan memenuhinya dengan ma’rifat dan rahasia-rahasia."
Subhanallaah, sungguh akan merasakan hakikat kelezatan hidup di dunia ini, yang sangat luar biasa, siapapun yang hatinya telah dipenuhi dengan cahaya dari sisi Allah Azza wa Jalla. "Cahaya di atas cahaya. Allah membimbing (seorang hamba) kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki ..." (QS. An Nuur [24] : 35).
Sumber : www.manajemenqolbu.com
Thursday, 25 April 2013
Al Hikam : Terhalangnya Jiwa Karena Syahwat
“Tidak menutup kemungkinan hati terhenti pada cahaya,sebagaimana terhalangnya jiwa karena gelapnya benda-benda makhluk (syahwat)” Al Hikam
Segala sesuatu yang kita rasakan,yang kita lihat maupun peristiwa yang kita alami merupakan tabir, sehingga engkau menjadi tidak bisa melihat Allah. Atau pemahaman kita salah dalam menempun jalan makrifat.
Kesalahan itu misalnya kita telah beristiqamah menempuh jalan makrifat, namun tujuan kita dibelokkan oleh keinginan-keinginan lain,bukan merapat kepada-Nya. Tujuan yang dibelokkan oleh hawa nafsu berupa keinginan sebagai seorang khowas; orang yang istimewa di bandingkan manusia awam. Penyebabnya karena hatimu terpengaruh oleh cerita-cerita bohong yang dibesar-besarkan.
Sering kita mendengar seseorang menempuh jalan makrifat, kemudian manusia memberi gelar wali. Ia dihormati dan disegani lantaran ilmunya yang tinggi dan istimewa. Setiap umat yang berjumpa dengannya selalu mencium tangan, menunduk-nunduk dan bersikap sangat sopan. Disiarkan kabar bahwa sang wali tersebut mampu shalat diatas air,berjalan diawan,pergi ke Mekkah dalam sekejap dan bisa bicara dengan arwah para nabi.
Inikah tujuan dalam menempuh makrifat? Jika tujuannya hanya demikian,maka betapa memalukan. Dan kita akan terhalang oleh nuranimu sendiri. Tujuan bermakrifat hanyalah ingin mendapatkan ilmu yang aneh-aneh dan gaib membuat orang awam berdecak kagum.
Jadi, orang menempuh jalan makrifat haruslah mempunyai tujuan agar bisa dekat dengan Allah. Tentu saja harus istiqomah dalam beribadah. Ibadah yang dilakukan juga tidak macam-macam,tidak ditambah dan dikurangi tetapi tetap pada jalur ajaran Rasulullah dalam sunnahny dan perintah Allah dalam Firman-Nya.
Wednesday, 10 April 2013
Mencintai Rasulullah SAW
Jika Allah SWT dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW maka dapat ditarik kesimpulan tentang posisi kemuliaan laki-laki tampan penutup para rasul itu. Lantas wajarlah sebagaimana termaktub dalam surat Al Ahzab ayat 56, kaum muslim diperintahkan untuk senantiasa bershalawat padanya.
Tak hanya manusia,pohon dan binatang pun, dikabarkan bershalawat kepada Beliau. Mereka yang sehari-hari tak pernah kita ketahui bercakap dan berkata-kata itu mengakui dan mengetahui kedudukan Nabi Muhammad SAW. Imam Bukhari dan Imam Muslim pernah meriwayatkan sebuah hadist dari Abdullah bin Masud bahwa sebatang pohon pernah menghampiri Rasulullah SAW ketika sesosok jin berkata kepada Nabi SAW.
“Siapa yang akan bersaksi untukmu?” ujar jin itu.
Nabi lalu menjawab :”Pohon ini. Kemarilah,wahai pohon!” lantas pohon kayu itu datang dengan mencabut akar-akarnya seaya mengeluarkan suara yang berisik.
Hajar Aswad yang ada di Ka’bah,sebagaimana diberitakan hadist riwayat Imam Muslim, diakui Nabi adalah satu batu di Mekah yang tak pernah absen menyalaminya. AlBaihaqi juga meriwayatkan hadist dari Jabir bin Abdullah bahwa jika nabi berjalan maka setiap batu dan pohon yang dilewatinya bersujud memberi penghormatan padanya.
Dalam sebuah hadist dengan sanad yang kuat dari Abu Hurairah melalui periwayatan Ibnu Hanbal,dikisahkan pula bahwa Nabi pernah masuk dalam satu taman dan beberapa ekor unta yang ada dalam taman itu bersujud pada beliau. Kisah serupa juga terdapat dalam hadist riwayat Tsa’labah bin Malik,saat Nabi memanggil salah satu unta dan unta yang dipanggil Nabi lantas sujud sampai mulutnya menyentuh tanah. Lalu Nabi bersabda : “Tidak ada sesuatu diantara langit dan bumi yang tidak tahu bahwa saya adalah Rasulullah kecuali mereka yang ingkar dari kalangan jin dan manusia.”
Hanya jin dan manusia yang ingkar yang tak mengakui kenabian Rasulullah. Dua golongan inilah yang senantiasa memalingkan hatinya dari kenyataaan bahwa Rasulullah adalah utusan Allah yang hak. Kaum kafir Quraisy yang terus-menerus berusaha membunuh Rasulullah adalah termasuk daripada mereka. Mereka juga kerap menghina dan merendahkan Nabi SAW serta melancarkan fitnah keji padanya.
Banyak sekali contoh yang diceritakan sejarah bagaimana cara mencintai dan menghormati Rasulullah SAW. Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. menunjukkan cintanya kepada Rasulullah SAW dengan mengambil resiko kehilangan nyawanya saat bersedia menggantikan Rasulullah SAW berbaring di dipannya ketika pemuda-pemuda terpilih quraisy dengan pedang terhunus sudah mengurung rumah Rasulullah SAW untuk membunuhnya. Demikian pula Umar bin Khatab ra. yang selalu berada digaris depan untuk membelanya,juga Abu Bakar yang selalu setia mendampinginya di segala kondisi.
Kita dapat mengambil perbandingan dari itu semuanya, sebagimana dulu Abu Bakar pernah berujar kepada Nabi saat ia melihat seekor biri-biri sujud kepada Beliau, “Wahai Rasulullah,(sesungguhnya) kami lebih wajib bersujud (mentaati) kepadamu dibanding biri-biri itu.”
Allahumma shalli ‘ala sayyidina muhammad wa ‘ala ali muhammad.
Wednesday, 27 March 2013
Lima Perusak Hati
Hati adalah pengendali. Jika ia baik, baik pula perbuatannya. Jika ia rusak, rusak pula perbuatannya. Maka menjaga hati dari kerusakan adalah niscaya dan wajib. Tentang perusak hati, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan ada lima perkara, yaitu :
1. Bergaul dengan banyak kalangan
Pergaulan itu perlu, tapi tidak asal bergaul dan banyak teman. Teman-teman yang buruk lambat laun akan menghitamkan hati, melemahkan dan menghilangkan rasa nurani, akan membuat yang bersangkutan larut dalam memenuhi berbagai keinginan mereka yang negatif.
Rasulullah SAW bersabda :
الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَذُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ « عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ
»
Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi SAW bersabda : seseorang itu atas din saudaranya. Maka lihatlah salah seorang diantara kalian, siapa yang ditemani. (HR. Ahmad)
Artinya, kalau kita ingin melihat kualitas din seseorang, maka lihatlah teman-temannya. Jika temannya adalah orang-orang rusak, maka dinnya rusak. Dan jika temannya adalah orang-orang shalih, maka dinnya pun baik.
Allah Ta’ala berfirman :
"Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa." (Az-Zukhruf: 67).
Maka bergaullah dengan para ulama’ dan orang-orang sholih, karena ia ibarat makanan yang kita kunsumsi setiap hari. Sedikit saja kita jauh darinya akan menjadikan hati kita jauh dari Allah Ta’ala dan islam. Sebaliknya, kita harus menjauhi teman para ahli bid’ah dan ahli maksiyat, karena ia adalah racunnya hati yang dapat mematikan hati kita dan sulit mendapatkan petunjuk dari Allah Ta’ala.
2. Larut dalam angan-angan kosong
Angan-angan kosong adalah lautan tak bertepi. Ia adalah lautan tempat berlayarnya orang-orang bangkrut. Bahkan dikatakan, angan-angan adalah modal orang-orang bangkrut. Ombak angan-angan terus mengombang-ambingkannya,khayalan-khayalan dusta senantiasa mempermainkannya. Laksana anjing yang sedang mempermainkan bangkai.
Adapun orang yang memiliki cita-cita tinggi dan mulia, maka cita-citanya adalah seputar ilmu, iman dan amal shalih yang mendekatkan dirinya kepada Allah. Dan ini adalah cita-cita terpuji. Adapun angan-angan kosong ia adalah tipu daya belaka. Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam memuji orang yang bercita-cita terhadap kebaikan.
3. Bergantung kepada selain Allah
Ini adalah faktor terbesar perusak hati. Tidak ada sesuatu yang lebih berbahaya dari bertawakkal dan bergantung kepada selain Allah. Jika seseorang bertawakkal kepada selain Allah maka Allah akan menyerahkan urusan orang tersebut kepada sesuatu yang ia bergantung kepadanya. Allah akan menghinakannya dan menjadikan perbuatannya sia-sia. Ia tidak akan mendapatkan sesuatu pun dari Allah, juga tidak dari makhluk yang ia bergantung kepadanya. Allah berfirman, artinya:
"Dan mereka telah mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar sembahan-sembahan itu menjadi pelindung bagi mereka. Sekali-kali tidak, kelak mereka (sembahan-sembahan) itu akan mengingkari penyembahan (pengikut-pengikutnya) terhadapnya, dan mereka (sembahan-sembahan) itu akan menjadi musuh bagi mereka." (Maryam: 81-82)
Maka orang yang paling hina adalah yang bergantung kepada selain Allah. Ia seperti orang yang berteduh dari panas dan hujan di bawah rumah laba-laba. Dan rumah laba-laba adalah rumah yang paling lemah dan rapuh. Lebih dari itu, secara umum, asal dan pangkal syirik adalah dibangun di atas ketergantungan kepada selain Allah. Orang yang melakukannya adalah orang hina dan nista.
Allah berfirman, artinya: "Janganlah kamu adakan tuhan lain selain Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah)." (Al-Isra': 22)
4. Makanan
Makanan perusak ada dua macam.
Pertama , merusak karena dzat/materinya, dan ia terbagi menjadi dua macam. Yang diharamkan karena hak Allah, seperti bangkai, darah, anjing, binatang buas yang bertaring dan burung yang berkuku tajam. Kedua, yang diharamkan karena hak hamba, seperti barang curian, rampasan dan sesuatu yang diambil tanpa kerelaan pemiliknya, baik karena paksaan, malu atau takut terhina.
Kedua, merusak karena melampaui ukuran dan takarannya. Seperti berlebihan dalam hal yang halal, kekenyangan kelewat batas. Sebab yang demikian itu membuatnya malas mengerjakan ketaatan, sibuk terus-menerus dengan urusan perut untuk memenuhi hawa nafsunya. Jika telah kekenyangan, maka ia merasa berat dan
karenanya ia mudah mengikuti komando setan. Setan masuk ke dalam diri manusia melalui aliran darah. Puasa mempersempit aliran darah dan menyumbat jalannya setan. Sedangkan kekenyangan memperluas aliran darah dan membuat setan betah tinggal berlama-lama. Barangsiapa banyak makan dan minum, niscaya akan banyak tidur dan banyak merugi.
Dalam sebuah hadits masyhur disebutkan: "Tidaklah seorang anak Adam memenuhi bejana yang lebih buruk dari memenuhi perutnya (dengan makanan dan minuman). Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap (makanan) yang bisa menegakkan tulang rusuknya. Jika harus dilakukan, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya dan sepertiga lagi untuk nafasnya." (HR. At-Tirmidzi, Ahmad dan Hakim, dishahihkan oleh Al-Albani).
5. Kebanyakan tidur
Banyak tidur mematikan hati, memenatkan badan, menghabiskan waktu dan membuat lupa serta malas. Di antara tidur itu ada yang sangat dibenci, ada yang berbahaya dan sama sekali tidak bermanfaat. Sedangkan tidur yang paling bermanfaat adalah tidur saat sangat dibutuhkan.
Segera tidur pada malam hari lebih baik dari tidur ketika sudah larut malam. Tidur pada tengah hari (tidur siang) lebih baik daripada tidur di pagi atau sore hari. Bahkan tidur pada sore dan pagi hari lebih banyak madharatnya daripada manfaatnya.
Di antara tidur yang dibenci adalah tidur antara shalat Shubuh dengan terbitnya matahari. Sebab ia adalah waktu yang sangat strategis. Karena itu, meskipun para ahli ibadah telah melewatkan sepanjang malamnya untuk ibadah, mereka tidak mau tidur pada waktu tersebut hingga matahari terbit. Sebab waktu itu adalah awal dan pintu siang, saat diturunkan dan dibagi-bagikannya rizki, saat diberikannya barakah. Maka masa itu adalah masa yang strategis dan sangat menentukan masa-masa setelahnya. Karenanya, tidur pada waktu itu hendaknya karena benar-benar sangat terpaksa.
Secara umum, saat tidur yang paling tepat dan bermanfaat adalah pada pertengahan pertama dari malam, serta pada seperenam bagian akhir malam, atau sekitar delapan jam. Dan itulah tidur yang baik menurut pada dokter. Jika lebih atau kurang daripadanya maka akan berpengaruh pada kebiasaan baiknya. Termasuk tidur yang tidak bermanfaat adalah tidur pada awal malam hari, setelah tenggelamnya matahari. Dan ia termasuk tidur yang dibenci Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam .
Banyak orang yang berpuasa, akan tetapi melakukan beberapa pelanggaran-pelanggaran diatas. Mereka memperbanyak makan karena seharian berpuasa. Ada yang memperbanyak tidur , padahal bulan puasa adalah bulan ibadah bukan bulan untuk memperbanyak tidur. Ada pula yang banyak melamun, bergaul dengan orang-orang rusak dengan alasan untuk menunggu berbuka puasa. Marilah bulan puasa ini kita manfaatkan untuk beribadah, karena tidak ada yang menjamin bahwa kita masih menemui kembali bulan ramadhan tahun depan.
(Disadur dari Mufsidaatul Qalbi Al-Khamsah, min kalami Ibni Qayyim Al-Jauziyyah)
1. Bergaul dengan banyak kalangan
Pergaulan itu perlu, tapi tidak asal bergaul dan banyak teman. Teman-teman yang buruk lambat laun akan menghitamkan hati, melemahkan dan menghilangkan rasa nurani, akan membuat yang bersangkutan larut dalam memenuhi berbagai keinginan mereka yang negatif.
Rasulullah SAW bersabda :
الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَذُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ « عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ
»
Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi SAW bersabda : seseorang itu atas din saudaranya. Maka lihatlah salah seorang diantara kalian, siapa yang ditemani. (HR. Ahmad)
Artinya, kalau kita ingin melihat kualitas din seseorang, maka lihatlah teman-temannya. Jika temannya adalah orang-orang rusak, maka dinnya rusak. Dan jika temannya adalah orang-orang shalih, maka dinnya pun baik.
Allah Ta’ala berfirman :
"Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa." (Az-Zukhruf: 67).
Maka bergaullah dengan para ulama’ dan orang-orang sholih, karena ia ibarat makanan yang kita kunsumsi setiap hari. Sedikit saja kita jauh darinya akan menjadikan hati kita jauh dari Allah Ta’ala dan islam. Sebaliknya, kita harus menjauhi teman para ahli bid’ah dan ahli maksiyat, karena ia adalah racunnya hati yang dapat mematikan hati kita dan sulit mendapatkan petunjuk dari Allah Ta’ala.
2. Larut dalam angan-angan kosong
Angan-angan kosong adalah lautan tak bertepi. Ia adalah lautan tempat berlayarnya orang-orang bangkrut. Bahkan dikatakan, angan-angan adalah modal orang-orang bangkrut. Ombak angan-angan terus mengombang-ambingkannya,khayalan-khayalan dusta senantiasa mempermainkannya. Laksana anjing yang sedang mempermainkan bangkai.
Adapun orang yang memiliki cita-cita tinggi dan mulia, maka cita-citanya adalah seputar ilmu, iman dan amal shalih yang mendekatkan dirinya kepada Allah. Dan ini adalah cita-cita terpuji. Adapun angan-angan kosong ia adalah tipu daya belaka. Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam memuji orang yang bercita-cita terhadap kebaikan.
3. Bergantung kepada selain Allah
Ini adalah faktor terbesar perusak hati. Tidak ada sesuatu yang lebih berbahaya dari bertawakkal dan bergantung kepada selain Allah. Jika seseorang bertawakkal kepada selain Allah maka Allah akan menyerahkan urusan orang tersebut kepada sesuatu yang ia bergantung kepadanya. Allah akan menghinakannya dan menjadikan perbuatannya sia-sia. Ia tidak akan mendapatkan sesuatu pun dari Allah, juga tidak dari makhluk yang ia bergantung kepadanya. Allah berfirman, artinya:
"Dan mereka telah mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar sembahan-sembahan itu menjadi pelindung bagi mereka. Sekali-kali tidak, kelak mereka (sembahan-sembahan) itu akan mengingkari penyembahan (pengikut-pengikutnya) terhadapnya, dan mereka (sembahan-sembahan) itu akan menjadi musuh bagi mereka." (Maryam: 81-82)
Maka orang yang paling hina adalah yang bergantung kepada selain Allah. Ia seperti orang yang berteduh dari panas dan hujan di bawah rumah laba-laba. Dan rumah laba-laba adalah rumah yang paling lemah dan rapuh. Lebih dari itu, secara umum, asal dan pangkal syirik adalah dibangun di atas ketergantungan kepada selain Allah. Orang yang melakukannya adalah orang hina dan nista.
Allah berfirman, artinya: "Janganlah kamu adakan tuhan lain selain Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah)." (Al-Isra': 22)
4. Makanan
Makanan perusak ada dua macam.
Pertama , merusak karena dzat/materinya, dan ia terbagi menjadi dua macam. Yang diharamkan karena hak Allah, seperti bangkai, darah, anjing, binatang buas yang bertaring dan burung yang berkuku tajam. Kedua, yang diharamkan karena hak hamba, seperti barang curian, rampasan dan sesuatu yang diambil tanpa kerelaan pemiliknya, baik karena paksaan, malu atau takut terhina.
Kedua, merusak karena melampaui ukuran dan takarannya. Seperti berlebihan dalam hal yang halal, kekenyangan kelewat batas. Sebab yang demikian itu membuatnya malas mengerjakan ketaatan, sibuk terus-menerus dengan urusan perut untuk memenuhi hawa nafsunya. Jika telah kekenyangan, maka ia merasa berat dan
karenanya ia mudah mengikuti komando setan. Setan masuk ke dalam diri manusia melalui aliran darah. Puasa mempersempit aliran darah dan menyumbat jalannya setan. Sedangkan kekenyangan memperluas aliran darah dan membuat setan betah tinggal berlama-lama. Barangsiapa banyak makan dan minum, niscaya akan banyak tidur dan banyak merugi.
Dalam sebuah hadits masyhur disebutkan: "Tidaklah seorang anak Adam memenuhi bejana yang lebih buruk dari memenuhi perutnya (dengan makanan dan minuman). Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap (makanan) yang bisa menegakkan tulang rusuknya. Jika harus dilakukan, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya dan sepertiga lagi untuk nafasnya." (HR. At-Tirmidzi, Ahmad dan Hakim, dishahihkan oleh Al-Albani).
5. Kebanyakan tidur
Banyak tidur mematikan hati, memenatkan badan, menghabiskan waktu dan membuat lupa serta malas. Di antara tidur itu ada yang sangat dibenci, ada yang berbahaya dan sama sekali tidak bermanfaat. Sedangkan tidur yang paling bermanfaat adalah tidur saat sangat dibutuhkan.
Segera tidur pada malam hari lebih baik dari tidur ketika sudah larut malam. Tidur pada tengah hari (tidur siang) lebih baik daripada tidur di pagi atau sore hari. Bahkan tidur pada sore dan pagi hari lebih banyak madharatnya daripada manfaatnya.
Di antara tidur yang dibenci adalah tidur antara shalat Shubuh dengan terbitnya matahari. Sebab ia adalah waktu yang sangat strategis. Karena itu, meskipun para ahli ibadah telah melewatkan sepanjang malamnya untuk ibadah, mereka tidak mau tidur pada waktu tersebut hingga matahari terbit. Sebab waktu itu adalah awal dan pintu siang, saat diturunkan dan dibagi-bagikannya rizki, saat diberikannya barakah. Maka masa itu adalah masa yang strategis dan sangat menentukan masa-masa setelahnya. Karenanya, tidur pada waktu itu hendaknya karena benar-benar sangat terpaksa.
Secara umum, saat tidur yang paling tepat dan bermanfaat adalah pada pertengahan pertama dari malam, serta pada seperenam bagian akhir malam, atau sekitar delapan jam. Dan itulah tidur yang baik menurut pada dokter. Jika lebih atau kurang daripadanya maka akan berpengaruh pada kebiasaan baiknya. Termasuk tidur yang tidak bermanfaat adalah tidur pada awal malam hari, setelah tenggelamnya matahari. Dan ia termasuk tidur yang dibenci Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam .
Banyak orang yang berpuasa, akan tetapi melakukan beberapa pelanggaran-pelanggaran diatas. Mereka memperbanyak makan karena seharian berpuasa. Ada yang memperbanyak tidur , padahal bulan puasa adalah bulan ibadah bukan bulan untuk memperbanyak tidur. Ada pula yang banyak melamun, bergaul dengan orang-orang rusak dengan alasan untuk menunggu berbuka puasa. Marilah bulan puasa ini kita manfaatkan untuk beribadah, karena tidak ada yang menjamin bahwa kita masih menemui kembali bulan ramadhan tahun depan.
(Disadur dari Mufsidaatul Qalbi Al-Khamsah, min kalami Ibni Qayyim Al-Jauziyyah)
Tuesday, 26 March 2013
Jalan Kesesatan
Allah menciptakan manusia dengan berbagai nikmat dan aturan yaitu Islam. Dengan aturan itu hidup manusia akan terjamin keselamatannya. Akan tetapi dalam kenyataannya,tidak semua manusia mau mengakui dan menerima aturan itu. Bahkan diantara mereka ada yang siang malam senantiasa mengerahkan segala dana dan dayanya untu menghancurkan aturan itu. Mereka itulah orang-orang kafir yang dijanjikan oleh Allah akan masuk neraka.
Mereka dengan sombongnya mengatakan bahwa Allah telah mati,Allah itu tidak ada,alam semesta ini terjadi secara alamiah belaka dan sejuta kalimat kesombongan yang intinya mereka tidak mau mengakui eksisitensi Allah swt. Padahal kalau mereka ditanya, lidah yang digunakan untuk berkata demikian itu siapa yang menciptakan, mereka pasti tidak akan berani berkata “Akulah yang menciptkan”. Sebab pada dasarnya mengakui adanya Allah. Hanya karena kosombongan dan nafsulah yang menyebabkan mereka berbuat seperti itu.
Allah lah yang menciptakan alam ini,termasuk juga manusia. Dia pasti Maha Tahu samapai dimana kapasitas manusia,sebagaimana agar manusia itu baik dan segala hal yang menyangkut seluk beluk manusia. Tidak mungkin Dia membuat aturan yang akan merusak ciptaan-Nya. Maka kalau manusia ingin hidupnya menjadi baik dan selamat, jelas tiada jalan lain kecuali dia harus kembali kepada aturan yang benar, yaitu islam.
Tapi kenapa manusia masih ada yang ingkar terhadap kebenaran Islam. Padahal kebenarannya sudah begitu jelas?
Ulama besar Abul A’la Al Maududi memberikan gambaran tentang sebab-sebab kekufuran dan tidak biasnya manusia mendapat hidayah dari Allah swt. Sebab tersebut adalah :
1. Mengikuti Hawa Nafsu Sendiri
“Dan siapakan yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim.” (QS. Al Qashash : 50)
“Terangkanlah padaku tentang orang-orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak,bahkan lebih sesat jalanya(dari binatang ternak).” (QS. Al Furqon : 43-44)
2. Mengikuti Budaya Nenek Moyang Tanpa Sikap Selektif
“Dan apabila dikatakan kepada mereka : “ikutilah aoa yang telah diturunkan oelh Allah.” Mereka menjawab :”(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan ) nenek moyang kami.” (Apakah mereka akan mengikuti juga) walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui sesuatu apapun, dan tidak mendapatkan petunjuk?” (QS. Al Baqarah : 70)
3. Patuh Kepada Selain Allah swt.
Kepatuhan kepada selain Allah ini terjadi apabila manusia mengesampingkan perintah-perintah Allah lalu mentaati perintah-perintah dari manusia dengan berbagai alas an.
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini,niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al An’am : 116)
Tiga hal itulah berhala-berhala besar yang masih bercokol di dalam tubuh umat ini. Kalau umat ini mau bangkit, terlebih dahulu ia harus membumihanguskan ketiga berhala tersebut. Karena kita hanya mendapat petunjuk manakala kita menyerahkan loyalitas kepada Allah swt saja.
Mereka dengan sombongnya mengatakan bahwa Allah telah mati,Allah itu tidak ada,alam semesta ini terjadi secara alamiah belaka dan sejuta kalimat kesombongan yang intinya mereka tidak mau mengakui eksisitensi Allah swt. Padahal kalau mereka ditanya, lidah yang digunakan untuk berkata demikian itu siapa yang menciptakan, mereka pasti tidak akan berani berkata “Akulah yang menciptkan”. Sebab pada dasarnya mengakui adanya Allah. Hanya karena kosombongan dan nafsulah yang menyebabkan mereka berbuat seperti itu.
Allah lah yang menciptakan alam ini,termasuk juga manusia. Dia pasti Maha Tahu samapai dimana kapasitas manusia,sebagaimana agar manusia itu baik dan segala hal yang menyangkut seluk beluk manusia. Tidak mungkin Dia membuat aturan yang akan merusak ciptaan-Nya. Maka kalau manusia ingin hidupnya menjadi baik dan selamat, jelas tiada jalan lain kecuali dia harus kembali kepada aturan yang benar, yaitu islam.
Tapi kenapa manusia masih ada yang ingkar terhadap kebenaran Islam. Padahal kebenarannya sudah begitu jelas?
Ulama besar Abul A’la Al Maududi memberikan gambaran tentang sebab-sebab kekufuran dan tidak biasnya manusia mendapat hidayah dari Allah swt. Sebab tersebut adalah :
1. Mengikuti Hawa Nafsu Sendiri
“Dan siapakan yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim.” (QS. Al Qashash : 50)
“Terangkanlah padaku tentang orang-orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak,bahkan lebih sesat jalanya(dari binatang ternak).” (QS. Al Furqon : 43-44)
2. Mengikuti Budaya Nenek Moyang Tanpa Sikap Selektif
“Dan apabila dikatakan kepada mereka : “ikutilah aoa yang telah diturunkan oelh Allah.” Mereka menjawab :”(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan ) nenek moyang kami.” (Apakah mereka akan mengikuti juga) walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui sesuatu apapun, dan tidak mendapatkan petunjuk?” (QS. Al Baqarah : 70)
3. Patuh Kepada Selain Allah swt.
Kepatuhan kepada selain Allah ini terjadi apabila manusia mengesampingkan perintah-perintah Allah lalu mentaati perintah-perintah dari manusia dengan berbagai alas an.
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini,niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al An’am : 116)
Tiga hal itulah berhala-berhala besar yang masih bercokol di dalam tubuh umat ini. Kalau umat ini mau bangkit, terlebih dahulu ia harus membumihanguskan ketiga berhala tersebut. Karena kita hanya mendapat petunjuk manakala kita menyerahkan loyalitas kepada Allah swt saja.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Tugas Utama Wanita
"Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah”. Asma’ binti Abu Bakar ra. pernah datang menghadap Ra...
-
"Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah”. Asma’ binti Abu Bakar ra. pernah datang menghadap Ra...
-
Bismillaahirrahmaanirrahiimi, Sabda Rasulullah SAW : “Seorang wanita biasanya dinikahi karena empat hal,yaitu karena hartanya, karena nas...
-
Allah swt tidak akan menarik suatu kenikmatan melainkan Dia akan menggantikannya dengan yang lebih baik. Tentunya, hal ini kita dapat bersab...